Betulkah melawan hawa nafsu itu termasuk
jihad besar ? Padahal terlihat begitu sepele, tapi mengapa disebut jihad besar
? Lalu bagaimana dengan berperang di jalan
Allah melawan musuh yang terlihat begitu besar pengorbanannya baik harta,
tenaga, waktu bahkan nyawa sekalipun, tapi kenapa disebut jihad kecil ?
Menurut
kamus bahasa Arab, Mahmud Yunus, Istilah jihad sebenarnya berasal dari akar kata
bahasa Arab, yaitu “jahada – yajhadu – jahdan” yang berarti
bersungguh-sungguh. Lalu dari akar kata tersebut mendapat tambahan huruf
menjadi “jaahada – yujaahidu – mujaahadatan wa jihaadan”, yang berarti
berjuang atau berperang.
Berperang Di Jalan Allah Termasuk Jihad Kecil
Menurut al-maany.com,
jihad secara istilah diartikan sebagai memerangi orang kafir yang tidak punya
perlindungan (kafir non dzimmy), atau peperangan yang dimaksudkan untuk
melindungi agama dan tanah air. Atau dengan kata lain, bahwa jihad adalah
mencurahkan segenap kemampuan diri dalam berperang di jalan Allah, dimana di
dalam Islam peperangan ini tergolong peperangan yang suci, dan orang yang gugur
di medan peperangan tergolong gugur sebagai syahid.
Dari istilah jihad tersebut, lahirlah 2 macam jihad. Ada jihad kecil
dalam bahasa Arab disebut “al-jihaad al-ashghar” dan ada istilah jihad
besar, yang dalam bahasa arab disebut dengan “al-jihaad al-akbar”.
Lalu kenapa jihad berperang di jalan Allah, yang begitu banyak
mengorbankan jiwa, raga, waktu dan harta benda disebut jihad kecil (al-jihaad
al-ashghar) ? Sedangkan melawan hawa nafsu disebut dengan jihad besar (jihaad
al-akbar) ?
Jihad
Besar Melawan Hawa Nafsu, Benarkah ?
Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW, disebutkan:
أَنَّ
النَّبِيَّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَ سَرِيَّةً فَلَمَّا
رَجَعُوْا، قَالَ: مَرْحَبًا بِقَوْمٍ قَضَوْا الْجِهَادَ الأَصْغَرَ، وَبَقِيَ عَلَيْهِمْ
الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟
قَالَ: جِهَادُ النّفْسِ.
Bahwa Nabi SAW telah mengutus tentara dalam peperangan, maka
tatkala mereka kembali dengan membawa kemenangan, Rasul SAW, berkata :”selamat datang para kaum yang telah menyelesaikan kewajiban jihad kecil, tapi bagi mereka menyisakan kewajiban jihad besar. Mereka bertanya Ya Rasulullah, apakah jihad besar itu
? Rasul SAW menjawab :”jihad mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu.”
Dan di dalam riwayat-riwayat lain
disebutkan juga bahwa mengendalikan hawa nafsu itu termasuk jihad besar dan
termasuk jihad yang paling utama.
Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ
رَسُوْلُ اللّهِ (ص ) : اَفْضَلُ الْجِهَادِ منْ جَاهَدَ نَفْسَهُ الَّتِيْ بَيْنَ
جَنْبَيْهِ
“Jihad paling utama yaitu siapa yang berjihad mengendalikan dirinya yang ada di antara tulang rusuk (lambung).”
“Jihad paling utama yaitu siapa yang berjihad mengendalikan dirinya yang ada di antara tulang rusuk (lambung).”
Sayyidina Ali KW berkata :
قَالَ
الامـام عـلـي : اَفـْضَـلُ الْـجِـهَـادِ
جِـهَـادُ الـنَّـفْسِ عَنِ الْهَوَى , وَفِطَامُهَا عَنْ لَذَاتِ الدُّنْيَا
“Jihad paling utama adalah jihad memerangi dan mengendalikan dari
hawa nafsu, dan cara penyapihannya adalah mengendalikan diri dari
kelezatan-kelezatan dunia.”
Dari
hadis-hadis dan riwayat tersebut dipahami bahwa, meskipun jihad
berperang di jalan Allah, terlihat berat dan banyak pengorbanan, tetapi pada
hakikatnya tergolong kecil dan ringan. Mengapa ? karena jihad berperang di
jalan Allah merupakan suatu amalan yang bersifat sementara, ketika menaklukkan
musuh di luar diri manusia. Anggaplah urusan sudah selesai sampai disitu.
Berbeda
dengan musuh di dalam diri manusia yang justru lebih berat dan bersifat
permanen. Dan dalam hal ini pada diri manusia urusannya belum selesai. Selama
hayat masih di kandung badan, maka manusia wajib berjihad mengendalikan hawa
nafsu, dan upaya itu harus dilakukan terus menerus selama hidupnya. Manusia
yang mampu jihad besar dengan mengendalikan hawa nafsu, manusia yang mampu
memadamkan neraka di dalam diri, dan manusia yang selalu menjaga kebeningan
hati, maka itulah manusia yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Itulah kenapa
mengendalikan hawa nafsu termasuk jihad besar (al-jihaad al-akbar).
Kenapa
diri atau nafsu itu harus dikendalikan dan harus diawasi ? karena pada dasarnya
nafsu itu memiliki kecenderungan (gharizah) untuk senantiasa
memerintahkan kepada keburukan dan kejahatan.
Sebagaimana
disebutkan dalam Q.S. Yusuf (12)
ayat 53 :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا
رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٣)
53. dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang
diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha
Penyanyang.
Meskipun manusia yang terlihat berat
ketika harus berperang mengendalikan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada
keburukan. Tetapi sebenarnya itulah nilai plus sebagai manusia. Kita sebagai
manusia, mempunyai kelebihan dibanding semua makhluk termasuk malaikat
sekalipun. Kelebihannya ialah manusia mempunyai dua dimensi.
1). Dimensi
materi, disebut juga dengan dimensi hewani. Pada dimensi materi atau jisim,
manusia memiliki insting atau kecenderungan, inilah yang disebut dengan dimensi
hewani manusia. Maka, pada dimensi ini manusia memang benar-benar disebut
sebagai hewan dalam arti sesungguhnya. Sehingga dalam sebuah riwayat disebutkan
bahwa manusia itu disebut sebagai ”hewan yang dapat
berbicara menggunakan akal pikiran”.
الأنْسَانُ حَيَوَانٌ
نَاطِقٌ
Oleh karena itu,
manusia yang hanya mengutamakan unsur materi saja, manusia yang hanya
menyenangkan perutnya saja, manusia yang cuma hanya mementingkan
kelezatan-kelezatan dunia, yang hanya menyenangkan hawa nafsunya saja, sesungguhnya
manusia tersebut persis seperti hewan bahkan lebih sesat daripada hewan.
Surat
Al-A’raf (7) ayat 179 menyebutkan
:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ
كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا
وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا
أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
﴿١٧٩﴾
“Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)
dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat
(tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
2). Dimensi spiritual atau dimensi malakuti. Dalam bahasa lain disebut dengan
istilah roh. Secara rohani, manusia yang mampu mencapai
derajat spiritual, maka dia seperti mencapai derajatnya para malaikat.
Komposisi inilah yang membentuk kelebihan
manusia, memiliki dimensi materi dan dimensi spiritual. Dimensi jasmani dan rohani. Tapi bila kedua
unsur ini tidak seimbang maka manusia menjadi tidak sempurna lagi. Sehingga,
untuk mencapai kesempurnaan yang
sesungguhnya, maka manusia harus mampu mengendalikan dimensi materinya untuk
sampai kepada dimensi ruhani atau dimensi spiritual. Salah satu caranya dengan
memerangi hawa nafsu, atau jihad al-nafs.
Mengapa Melawan Hawa Nafsu Disebut Berperang ?
Kenapa melawan hawa
nafsu disebut berperang bahkan disebut sebagai jihad besar ? Karena pada diri manusia sesungguhnya juga memiliki
tentara. Sehingga hal itu disebut dengan jihad
dalam peperangan.
Sebagaimana disebutkan oleh perkataan para ulama :
فإذَا
تَغَلَّبَتْ جُنُودُ الرَّحْمَنِ كَانَ الإنْسَانُ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَالرَّحْمَةِ،
وحُشِرَ فِي زُمْرَةِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ.
“Jika dalam jihad ini tentara Allah SWT memenangkannya, maka manusia
termasuk golongan orang-orang bahagia dan mendapatkan kasih sayang, dan dia
dikumpulkan bersama golongan para nabi, para wali dan orang-orang shalih.”
وَإِذَا
تَغَلَّبَ جُنْدُ الشَّيْطَانِ، كَانَ الْإِنْسَانُ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ وَالْغَضَبِ،
وَحُشِرَ فِيْ زُمْرَةِ الشَّيَاطِيْنِ وَالْكُفَارِ وَالْمَحْرُوْمِيْنَ.
“Tapi jika dalam jihad ini tentara syetan
memenangkannya, maka manusia termasuk golongan orang-orang celaka dan
mendapatkan murka, dan dikumpulkan bersama golongan para syetan, orang-orang
kafir dan orang-orang yang bernasib buruk.”
Sehingga Jihaad al-nafs, yang termasuk
kategori jihad besar melawan hawa nafsu
dan mengendalikannya merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman. Sebab jika tidak,
maka dalam perjalanan hidupnya pasti ia akan mengalami ketimpangan dan gangguan.
Banyak godaan hawa nafsu dan bisikan-bisikan syetan yang siap menerkam keimanan kita.
Dan kita harus yakin dalam jihad al-nafs ini bila kita
niatkan mencari keridhaan Allah SWT dan menempuh jalan spiritual untuk sampai
kepada ke hadirat Allah SWT, maka niscaya Allah SWT memberikan
kemudahan-kemudahan jalan buat kita semua.
Disebutkan di dalam Q.S. Al-‘Ankabuut (29) ayat 69 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا
فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)
69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)
Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan
Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Demikianlah,
pembahasan mengenai jihad besar mengendalikan hawa nafsu atau jihaad al-nafs,
semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melakukan jihad ini secara terus
menerus selama perjalanan hidup kita, dan kita selalu diberikan hidayah jalan
termudah untuk menuju Allah SWT, dan menggapai keridhaan Allah SWT. Aamiin.
----------
·
Khutbah Jum’at
disampaikan oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag di Masjid
At-Tawwab, Larangan Indah, Kota Tangerang pada Jum’at 6
Januari 2012/ 12 Shafar 1433 H

EmoticonEmoticon