Senin, 06 Agustus 2018

Jihad Besar Melawan Hawa Nafsu


Jihad Besar Melawan Hawa Nafsu
Betulkah melawan hawa nafsu itu termasuk jihad besar ? Padahal terlihat begitu sepele, tapi mengapa disebut jihad besar ? Lalu bagaimana dengan berperang di jalan Allah melawan musuh yang terlihat begitu besar pengorbanannya baik harta, tenaga, waktu bahkan nyawa sekalipun, tapi kenapa disebut jihad kecil ?
Menurut kamus bahasa Arab, Mahmud Yunus, Istilah jihad sebenarnya berasal dari akar kata bahasa Arab, yaitu “jahada – yajhadu – jahdan” yang berarti bersungguh-sungguh. Lalu dari akar kata tersebut mendapat tambahan huruf menjadi “jaahada – yujaahidu – mujaahadatan wa jihaadan”, yang berarti berjuang atau berperang.

Berperang Di Jalan Allah Termasuk Jihad Kecil
Menurut al-maany.com, jihad secara istilah diartikan sebagai memerangi orang kafir yang tidak punya perlindungan (kafir non dzimmy), atau peperangan yang dimaksudkan untuk melindungi agama dan tanah air. Atau dengan kata lain, bahwa jihad adalah mencurahkan segenap kemampuan diri dalam berperang di jalan Allah, dimana di dalam Islam peperangan ini tergolong peperangan yang suci, dan orang yang gugur di medan peperangan tergolong gugur sebagai syahid.
Dari istilah jihad tersebut, lahirlah 2 macam jihad. Ada jihad kecil dalam bahasa Arab disebut “al-jihaad al-ashghar” dan ada istilah jihad besar, yang dalam bahasa arab disebut dengan “al-jihaad al-akbar”.
Lalu kenapa jihad berperang di jalan Allah, yang begitu banyak mengorbankan jiwa, raga, waktu dan harta benda disebut jihad kecil (al-jihaad al-ashghar) ? Sedangkan melawan hawa nafsu disebut dengan jihad besar (jihaad al-akbar) ?

Jihad Besar Melawan Hawa Nafsu, Benarkah ?

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW, disebutkan:
أَنَّ النَّبِيَّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ، بَعَثَ سَرِيَّةً فَلَمَّا رَجَعُوْا، قَالَ: مَرْحَبًا بِقَوْمٍ قَضَوْا الْجِهَادَ الأَصْغَرَ، وَبَقِيَ عَلَيْهِمْ الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ النّفْسِ.

Bahwa Nabi SAW telah mengutus tentara dalam peperangan, maka tatkala mereka kembali dengan membawa kemenangan, Rasul SAW, berkata :”selamat datang para kaum yang telah menyelesaikan kewajiban jihad kecil, tapi bagi mereka menyisakan kewajiban jihad besar. Mereka bertanya Ya Rasulullah, apakah jihad besar itu ? Rasul SAW menjawab :”jihad mengendalikan diri, mengendalikan hawa nafsu.”

Dan di dalam riwayat-riwayat lain disebutkan juga bahwa mengendalikan hawa nafsu itu termasuk jihad besar dan termasuk jihad yang paling utama.
Rasulullah SAW bersabda :
قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ (ص ) : اَفْضَلُ الْجِهَادِ منْ جَاهَدَ نَفْسَهُ الَّتِيْ بَيْنَ جَنْبَيْهِ
“Jihad paling utama yaitu siapa yang berjihad mengendalikan dirinya yang ada di antara tulang rusuk (lambung).”

Sayyidina Ali KW berkata :
قَالَ الامـام عـلـي  : اَفـْضَـلُ الْـجِـهَـادِ جِـهَـادُ الـنَّـفْسِ عَنِ الْهَوَى , وَفِطَامُهَا عَنْ لَذَاتِ الدُّنْيَا
“Jihad paling utama adalah jihad memerangi dan mengendalikan dari hawa nafsu, dan cara penyapihannya adalah mengendalikan diri dari kelezatan-kelezatan dunia.”

Dari hadis-hadis dan riwayat tersebut dipahami bahwa, meskipun jihad berperang di jalan Allah, terlihat berat dan banyak pengorbanan, tetapi pada hakikatnya tergolong kecil dan ringan. Mengapa ? karena jihad berperang di jalan Allah merupakan suatu amalan yang bersifat sementara, ketika menaklukkan musuh di luar diri manusia. Anggaplah urusan sudah selesai sampai disitu.

Berbeda dengan musuh di dalam diri manusia yang justru lebih berat dan bersifat permanen. Dan dalam hal ini pada diri manusia urusannya belum selesai. Selama hayat masih di kandung badan, maka manusia wajib berjihad mengendalikan hawa nafsu, dan upaya itu harus dilakukan terus menerus selama hidupnya. Manusia yang mampu jihad besar dengan mengendalikan hawa nafsu, manusia yang mampu memadamkan neraka di dalam diri, dan manusia yang selalu menjaga kebeningan hati, maka itulah manusia yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Itulah kenapa mengendalikan hawa nafsu termasuk jihad besar (al-jihaad al-akbar).

Kenapa diri atau nafsu itu harus dikendalikan dan harus diawasi ? karena pada dasarnya nafsu itu memiliki kecenderungan (gharizah) untuk senantiasa memerintahkan kepada keburukan dan kejahatan.

Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Yusuf  (12) ayat 53 :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٣)
53. dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

Meskipun manusia yang terlihat berat ketika harus berperang mengendalikan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan. Tetapi sebenarnya itulah nilai plus sebagai manusia. Kita sebagai manusia, mempunyai kelebihan dibanding semua makhluk termasuk malaikat sekalipun. Kelebihannya ialah manusia mempunyai dua dimensi.
1). Dimensi materi, disebut juga dengan dimensi hewani. Pada dimensi materi atau jisim, manusia memiliki insting atau kecenderungan, inilah yang disebut dengan dimensi hewani manusia. Maka, pada dimensi ini manusia memang benar-benar disebut sebagai hewan dalam arti sesungguhnya. Sehingga dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa manusia itu disebut sebagai hewan yang dapat berbicara menggunakan akal pikiran”.
الأنْسَانُ حَيَوَانٌ نَاطِقٌ
Oleh karena itu, manusia yang hanya mengutamakan unsur materi saja, manusia yang hanya menyenangkan perutnya saja, manusia yang cuma hanya mementingkan kelezatan-kelezatan dunia, yang hanya menyenangkan hawa nafsunya saja, sesungguhnya manusia tersebut persis seperti hewan bahkan lebih sesat daripada hewan.

Surat Al-A’raf (7) ayat 179 menyebutkan :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ ﴿١٧٩﴾

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

2). Dimensi spiritual atau dimensi malakuti. Dalam bahasa lain disebut dengan istilah roh. Secara rohani, manusia yang mampu mencapai derajat spiritual, maka dia seperti mencapai derajatnya para malaikat.
Komposisi inilah yang membentuk kelebihan manusia, memiliki dimensi materi dan dimensi spiritual. Dimensi jasmani dan rohani. Tapi bila kedua unsur ini tidak seimbang maka manusia menjadi tidak sempurna lagi. Sehingga, untuk mencapai kesempurnaan  yang sesungguhnya, maka manusia harus mampu mengendalikan dimensi materinya untuk sampai kepada dimensi ruhani atau dimensi spiritual. Salah satu caranya dengan memerangi hawa nafsu, atau jihad al-nafs.

Mengapa Melawan Hawa Nafsu Disebut Berperang ?

Kenapa melawan hawa nafsu disebut berperang bahkan disebut sebagai jihad besar ? Karena pada diri manusia sesungguhnya juga memiliki tentara. Sehingga hal itu disebut dengan jihad dalam peperangan.
Sebagaimana disebutkan oleh perkataan para ulama :
فإذَا تَغَلَّبَتْ جُنُودُ الرَّحْمَنِ كَانَ الإنْسَانُ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَالرَّحْمَةِ، وحُشِرَ فِي زُمْرَةِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ.
“Jika dalam jihad ini tentara Allah SWT memenangkannya, maka manusia termasuk golongan orang-orang bahagia dan mendapatkan kasih sayang, dan dia dikumpulkan bersama golongan para nabi, para wali dan orang-orang shalih.”
وَإِذَا تَغَلَّبَ جُنْدُ الشَّيْطَانِ، كَانَ الْإِنْسَانُ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ وَالْغَضَبِ، وَحُشِرَ فِيْ زُمْرَةِ الشَّيَاطِيْنِ وَالْكُفَارِ وَالْمَحْرُوْمِيْنَ.
Tapi jika dalam jihad ini tentara syetan memenangkannya, maka manusia termasuk golongan orang-orang celaka dan mendapatkan murka, dan dikumpulkan bersama golongan para syetan, orang-orang kafir dan orang-orang yang bernasib buruk.

Sehingga Jihaad al-nafs, yang termasuk kategori jihad besar melawan hawa nafsu dan mengendalikannya merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman. Sebab jika tidak, maka dalam perjalanan hidupnya pasti ia akan mengalami ketimpangan dan gangguan. Banyak godaan hawa nafsu dan bisikan-bisikan syetan yang siap menerkam keimanan kita.
Dan kita harus yakin dalam jihad al-nafs ini bila kita niatkan mencari keridhaan Allah SWT dan menempuh jalan spiritual untuk sampai kepada ke hadirat Allah SWT, maka niscaya Allah SWT memberikan kemudahan-kemudahan jalan buat kita semua.

Disebutkan di dalam Q.S. Al-‘Ankabuut (29) ayat 69 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (٦٩)
69. dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Demikianlah, pembahasan mengenai jihad besar mengendalikan hawa nafsu atau jihaad al-nafs, semoga kita semua diberikan kekuatan untuk melakukan jihad ini secara terus menerus selama perjalanan hidup kita, dan kita selalu diberikan hidayah jalan termudah untuk menuju Allah SWT, dan menggapai keridhaan Allah SWT. Aamiin.

----------
·       Khutbah Jum’at disampaikan oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag di Masjid At-Tawwab, Larangan Indah, Kota Tangerang pada Jum’at 6 Januari 2012/ 12 Shafar 1433 H

Salam....Saya suka menulis tentang kajian Islam dan Pendidikan. Kadang-kadang isi postingan dalam blog ini adalah kumpulan materi kuliah agama Islam, kumpulan ceramah-ceramah, khutbah jum'at dan pengajian-pengajian. Selain juga artikel postingan tersendiri. ....Wassalam


EmoticonEmoticon