Dan
sudah menjadi tradisi dan kebiasaan jamaah haji yang datang dari ibadah haji,
mereka membawa buah tangan atau oleh-oleh untuk jamuan para tamu atau dibagikan
kepada sanak saudara, handai taulan dan kepada para tetangga.
Mereka
membawa oleh-oleh berupa air zam-zam, macam-macam kurma, pakaian maupun jenis
kacang-kacangan, dll.
Dari
sekian banyak buah tangan itu semua, ada buah tangan yang lebih penting lagi
bukan hanya kita nikmati tapi nilai-nilai dan ajarannya harus diaktualisasikan oleh
orang tersebut maupun oleh kita semua, yaitu buah tangan atau oleh-oleh haji
mabrur.
Keistimewaan Predikat Haji Mabrur
Menurut Islam
Ketika mengkaji tentang keistimewaan
predikat haji mabrur menurut Islam, maka kita harus berdasarkan dalil-dalil
agama Islam. Diantaranya berasal dari hadis-hadis Rasulullah SAW. Hadis-hadis tentang
haji mabrur seperti berikut ini :
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاّ الْجَنَّةَ "
Rasulullah SAW bersabda,”Haji yang mabrur, maka tidak ada
baginya balasan kecuali surga.”
مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ اُمُّهُ "
Rasulullah SAW bersabda,”siapa yang berhaji karena Allah,
dia tidak berkata kotor, dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang dari
hajinya seperti hari dia dilahirkan ibunya.”
Predikat haji mabrur menurut Islam, sebagaimana disabdakan
Nabi SAW, adalah sangat istimewa, yaitu dia akan mendapatkan balasan surga dari
Allah SWT, dan pelaku haji mabrur berada dalam kesucian tanpa dosa dan
kesalahan, seperti bayi yang baru dilahirkan.
Pengertian Haji Mabrur Menurut Islam
Sesungguhnya apa dan bagaimana pengertian haji mabrur menurut
Islam ? Lalu apa konsekwensinya bagi seseorang yang memperoleh predikat haji
mabrur menurut Islam ?
Dalam
sebuah kamus bahasa Arab, disebutkan bahwa :
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ← بَرَّاللهُ حَجَّ فُلاَنٍ اَيْ قَبِلَهُ
“Yang disebut haji
mabrur adalah dimana Allah SWT menerima haji orang tersebut.”
Sehingga,
selain istilah haji mabrur, dikenal pula istilah haji maqbul, dimana orang
tersebut ibadah hajinya diterima Allah SWT.
Sedangkan asal kata “مَبْرُوْرُ
“ berasal dari bahasa Arab (- بِرًّا
بَرَّ - يَبِرُّ ) yang berarti menurut,
patuh, berbuat baik, benar atau saleh.
Siapakah orang yang layak mendapat predikat haji mabrur
menurut Islam ? Seseorang yang layak disebut haji mabrur, bila ia senantiasa menjadi orang yang patuh kepada Allah SWT.
Haji mabrur adalah orang yang
senantiasa berbuat baik dan berada dalam kebenaran. Haji mabrur adalah
orang yang memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sehingga, orang
yang meraih predikat haji mabrur sangat identik atau merupakan cerminan dari “الاَبْرَارُ ” yang berarti orang-orang yang berbuat baik, yang
tiada lain balasannya juga adalah surga yang penuh dengan kenikmatan.
Allah SWT berfirman dalam Surat
Al-Infithaar ayat 13 :
اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang
berbuat baik benar-benar berada dalam surga yang penih dengan kenikmatan.”
Sifat-Sifat
Haji Mabrur Menurut Al-Quran
Sebagaiaman
disebutkan bahwa haji mabrur adalah memiliki sifat-sifat yang baik. Dan istilah
“mabruur” (haji yang diterima) punya akar kata yang sama dengan istilah “al-abraar”
(orang-orang yang baik).
Lalu siapakah “الاَبْرَارُ” (orang-orang yang berbuat baik) menurut Al-Quran? Bagaimana
kriteria kebaikan menurut Al-Quran? Al-Quran menyebutnya di dalam Surat Al
Baqarah ayat 177:
۞ لَيْسَ
الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ
الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ
وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ
وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ
وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat,
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa.”
Meskipun ayat tersebut, tidak dikhususkan hanya untuk para haji mabrur, tapi
diperuntukkan kepada segenap kaum muslimin. Tetapi
karena secara akar kata memiliki kesamaan antara “mabruur” dan “al-abraar”. Maka,
setidaknya para haji mabrur dapat menjadi pelopor, menjadi contoh dan teladan, ikut
mewarnai dan mengajak saudara-saudara muslim lainnya, menjadi orang-orang yang
baik dalam kehidupannya.
ليس
البر ان تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب" ”
= Tidaklah disebut kebaikan bila kalian menghadapkan wajah kalian ke arah
timur dan ke arah barat.
“ ولكن البر من امن بالله
واليوم الاخر والملئكة والكتاب والنبيين ”= Tetapi yang
disebut kebaikan adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, para
malaikat, kitab-kitab, dan kepada para Nabi.
Haji mabrur adalah
cerminan dari “al-abraar” =
orang-orang
yang berbuat baik, sehingga ia patut melakukan “al-birr” = kebaikan-kebaikan yang diperintahkan
oleh Allah SWT.
5 Ciri Predikat Haji Mabrur Menurut Islam
Berdasarkan
pandangan dari al quran, bahwa haji mabrur adalah al-abraar yang melakukan
al-birr. Maka minimalnya ada 5 ciri predikat haji mabrur menurut Islam.
Pertama, secara pribadi
haji mabrur sudah sepatutnya memilki akidah dan keyakinan hidup lebih mantap. Juga keimanannya bertambah kepada Allah, hari
akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi.
Kedua, secara sosial haji
mabrur menjadi orang yang lebih dermawan dan pemurah hati.
واتي
المال على حبه ذوى القربى واليتمى والمسكين وابن السبيل والسائلين وفى الرقاب” = dan memberikan harta
yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu
sabil, orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.
Ketiga, kewajiban salat
dan kewajiban zakat tidak pernah ia lupakan, bahkan selayaknya menjadi lebih
baik lagi.
“واقام الصلوة واتى الزكوة” = senantiasa mendirikan salat dan
menunaikan zakat.
Keempat, ia tidak pernah
mengingkari atau menyalahi janjinya dengan siapa pun.
“ والموفون بعهدهم اذا عهدوا ”
= dan orang-orang yang suka menepati janjinya, bila ia berjanji.
Kelima, ia jadikan sabar sebagai
sikap yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesempitan,
penderitaan dan segala macam cobaan.
“والصبرين فى الباساء والضراء وحين الباس
”=
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan.
Di akhir ayat
tersebut Allah berfirman :
“اولئك الذين صدقوا والئك هم
المتقون”=mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka
itulah orang-orang yang bertakwa.
Kesimpulan dari pembahasan predikat haji mabrur menurut Islam, yaitu bahwa para haji mabrur selayaknya mengamalkan ajaran-ajaran Allah SWT yang telah disebutkan di atas, dimana mereka seharusnya memiliki pribadi yang saleh secara individual maupun secara sosial.
Dan bagi kita yang
belum menunaikan ibadah haji dapat meneladani perilaku mereka yang merupakan
cerminan “الاَبْرَارُ ”orang-orang yang berbuat
baik”, yang
selalu melakukan “al-birr” (kebaikan-kebaikan).
Dan haji mabrur adalah
buah tangan atau oleh-oleh dari para jamaah haji yang bukan hanya kita nikmati
tapi harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dicontoh oleh
orang-orang di sekitarnya.
* Khutbah Jum’at oleh
Mubarok Abie Fadhli, S.Ag disampaikan di Masjid Tarbawy, Srengseng
– Jakarta Barat pada tanggal 28 Desember 2007 M atau 18
Dzulhijjah 1428 H

EmoticonEmoticon