Minggu, 05 Agustus 2018

Predikat Haji Mabrur Menurut Islam


         
predikat haji mabrur menurut Islam
Bagaimana predikat haji mabrur menurut Islam ? Seperti kita saksikan bersama, bahwa dalam minggu-minggu ini, saudara-saudara kita kaum muslimin Indonesia mulai kembali ke tanah air, setelah mereka menunaikan rukun Islam yang ke-5, ibadah haji di tanah suci Mekkah al-Mukarromah.
          Dan sudah menjadi tradisi dan kebiasaan jamaah haji yang datang dari ibadah haji, mereka membawa buah tangan atau oleh-oleh untuk jamuan para tamu atau dibagikan kepada sanak saudara, handai taulan dan kepada para tetangga.
          Mereka membawa oleh-oleh berupa air zam-zam, macam-macam kurma, pakaian maupun jenis kacang-kacangan, dll.
            Dari sekian banyak buah tangan itu semua, ada buah tangan yang lebih penting lagi bukan hanya kita nikmati tapi nilai-nilai dan ajarannya harus diaktualisasikan oleh orang tersebut maupun oleh kita semua, yaitu buah tangan atau oleh-oleh haji mabrur.

Keistimewaan Predikat Haji Mabrur Menurut Islam
Ketika mengkaji tentang keistimewaan predikat haji mabrur menurut Islam, maka kita harus berdasarkan dalil-dalil agama Islam. Diantaranya berasal dari hadis-hadis Rasulullah SAW. Hadis-hadis tentang haji mabrur seperti berikut ini  :

اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ اِلاّ الْجَنَّةَ "
Rasulullah SAW bersabda,”Haji yang mabrur, maka tidak ada baginya balasan kecuali surga.” 

مَنْ حَجَّ لِلّٰهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ اُمُّهُ "
Rasulullah SAW bersabda,”siapa yang berhaji karena Allah, dia tidak berkata kotor, dan tidak berbuat kefasikan, maka dia pulang dari hajinya seperti hari dia dilahirkan ibunya.”

Predikat haji mabrur menurut Islam, sebagaimana disabdakan Nabi SAW, adalah sangat istimewa, yaitu dia akan mendapatkan balasan surga dari Allah SWT, dan pelaku haji mabrur berada dalam kesucian tanpa dosa dan kesalahan, seperti bayi yang baru dilahirkan.
 
Pengertian Haji Mabrur Menurut Islam
Sesungguhnya apa dan bagaimana pengertian haji mabrur menurut Islam ? Lalu apa konsekwensinya bagi seseorang yang memperoleh predikat haji mabrur menurut Islam ?
Dalam sebuah kamus bahasa Arab, disebutkan bahwa :
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُبَرَّاللهُ حَجَّ فُلاَنٍ اَيْ قَبِلَهُ
“Yang disebut haji mabrur adalah dimana Allah SWT menerima haji orang tersebut.”
Sehingga, selain istilah haji mabrur, dikenal pula istilah haji maqbul, dimana orang tersebut ibadah hajinya diterima Allah SWT.

Sedangkan asal kata مَبْرُوْرُ berasal dari bahasa Arab (- بِرًّا  بَرَّ - يَبِرُّ ) yang berarti menurut, patuh, berbuat baik, benar atau saleh. 
          Siapakah orang yang layak mendapat predikat haji mabrur menurut Islam ? Seseorang yang layak disebut haji mabrur, bila ia senantiasa menjadi orang yang patuh kepada Allah SWT. Haji mabrur adalah  orang yang senantiasa berbuat baik dan berada dalam kebenaran. Haji mabrur adalah orang yang memiliki kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Sehingga, orang yang meraih predikat haji mabrur sangat identik atau merupakan cerminan dari الاَبْرَارُ yang berarti orang-orang yang berbuat baik, yang tiada lain balasannya juga adalah surga yang penuh dengan kenikmatan.
          Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Infithaar ayat 13 :
اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat baik benar-benar berada dalam surga yang penih dengan kenikmatan.”

Sifat-Sifat Haji Mabrur Menurut Al-Quran

          Sebagaiaman disebutkan bahwa haji mabrur adalah memiliki sifat-sifat yang baik. Dan istilah “mabruur” (haji yang diterima) punya akar kata yang sama dengan istilah “al-abraar” (orang-orang yang baik).
Lalu siapakah الاَبْرَارُ (orang-orang yang berbuat baik) menurut Al-Quran? Bagaimana kriteria kebaikan menurut Al-Quran? Al-Quran menyebutnya di dalam Surat Al Baqarah ayat 177:
۞ لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Meskipun ayat tersebut, tidak dikhususkan hanya untuk para haji mabrur, tapi diperuntukkan kepada segenap kaum muslimin. Tetapi karena secara akar kata memiliki kesamaan antara “mabruur” dan “al-abraar”. Maka, setidaknya para haji mabrur dapat menjadi pelopor, menjadi contoh dan teladan, ikut mewarnai dan mengajak saudara-saudara muslim lainnya, menjadi orang-orang yang baik dalam kehidupannya.

ليس البر ان تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب" ” = Tidaklah disebut kebaikan bila kalian menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan ke arah barat.
     ولكن البر من امن بالله واليوم الاخر والملئكة والكتاب والنبيين ”= Tetapi yang disebut kebaikan adalah siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan kepada para Nabi.
Haji mabrur adalah cerminan dari “al-abraar = orang-orang yang berbuat baik, sehingga ia patut melakukan “al-birr = kebaikan-kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.

5 Ciri Predikat Haji Mabrur Menurut Islam
Berdasarkan pandangan dari al quran, bahwa haji mabrur adalah al-abraar yang melakukan al-birr. Maka minimalnya ada 5 ciri predikat haji mabrur menurut Islam.
          Pertama, secara pribadi haji mabrur sudah sepatutnya memilki akidah dan keyakinan hidup lebih mantap.  Juga keimanannya bertambah kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab, dan para nabi.
Kedua, secara sosial haji mabrur menjadi orang yang lebih dermawan dan pemurah hati.
واتي المال على حبه ذوى القربى واليتمى والمسكين وابن السبيل والسائلين وفى الرقاب” = dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya.
          Ketiga, kewajiban salat dan kewajiban zakat tidak pernah ia lupakan, bahkan selayaknya menjadi lebih baik lagi.
واقام الصلوة واتى الزكوة” = senantiasa mendirikan salat dan menunaikan zakat.
Keempat, ia tidak pernah mengingkari atau menyalahi janjinya dengan siapa pun.
  والموفون بعهدهم اذا عهدوا = dan orang-orang yang suka menepati janjinya, bila ia berjanji.
Kelima, ia jadikan sabar sebagai sikap yang terbaik ketika menghadapi berbagai kesempitan, penderitaan dan segala macam cobaan.
والصبرين فى الباساء والضراء وحين الباس   ”= dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Di akhir ayat tersebut Allah berfirman :
اولئك الذين صدقوا  والئك هم المتقون”=mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Kesimpulan dari pembahasan predikat haji mabrur menurut Islam, yaitu bahwa para haji mabrur selayaknya mengamalkan ajaran-ajaran Allah SWT yang telah disebutkan di atas, dimana mereka seharusnya memiliki pribadi yang saleh secara individual maupun secara sosial.
Dan bagi kita yang belum menunaikan ibadah haji dapat meneladani perilaku mereka yang merupakan cerminan “الاَبْرَارُ orang-orang yang berbuat baik”, yang selalu melakukan “al-birr” (kebaikan-kebaikan).
          Dan haji mabrur adalah buah tangan atau oleh-oleh dari para jamaah haji yang bukan hanya kita nikmati tapi harus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat dicontoh oleh orang-orang di sekitarnya.

         
* Khutbah Jum’at oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag disampaikan di Masjid Tarbawy, Srengseng – Jakarta Barat pada tanggal 28 Desember 2007 M atau 18 Dzulhijjah 1428 H

Salam....Saya suka menulis tentang kajian Islam dan Pendidikan. Kadang-kadang isi postingan dalam blog ini adalah kumpulan materi kuliah agama Islam, kumpulan ceramah-ceramah, khutbah jum'at dan pengajian-pengajian. Selain juga artikel postingan tersendiri. ....Wassalam


EmoticonEmoticon