Mengenal Tuhan dalam Islam merupakan sebuah pondasi bagi seorang Muslim dalam beragama. Ibarat seseorang yang membangun sebuah bangunan. Jika pondasinya kuat niscaya, bangunan tersebut akan menjadi kuat sampai ke atas. Tapi jika pondasi tersebut lemah, maka bangunan yang ada di atasnya dipastikan suatu saat akan roboh.
Baca juga : Pengertian Islam menurut bahasa dan istilah
Ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Mengenal Tuhan dalam Islam begitu penting. Karena dengan mengenal Tuhan dengan benar, maka seseorang akan sayang dan dapat memanifestasikan cintanya kepada Tuhan dengan benar pula. Dan Tuhanpun akan sayang dan mencintai dirinya.
Mengenal Tuhan dalam Islam adalah suatu bahasan yang utama dan pokok (ushuul al-diin) bagi seseorang yang belajar mengkaji Islam. Oleh karena itu, kajian tentang mengenal Tuhan harus didahulukan daripada kajian-kajian lainnya yang bersifat cabang (furuu’ al-diin).
Karena begitu sangat pentingnya mengenal Tuhan dalam Islam, sehingga orang yang tidak mengenal Tuhannya dalam Islam ketika beribadah, maka ibadahnya tergolong ibadah yang tertolak alias tidak sah. Secara logika saja masuk akal, bagaimana mungkin dia menyembah Tuhan, wong Tuhannya saja belum dia kenal.
Al-Imam al-Ghazali berkata:لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengenal (Allah) yang wajib disembah”.
Bagaimana Cara Mengenal Tuhan Dalam Islam
Cara mengenal Tuhan dalam Islam, tentu kita harus batasi. Dalam arti bahwa mengenal Tuhan bukan dalam skala diri-Nya, bukan mengkaji dan mengenal dzat-Nya. Upaya tersebut tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Karena hal demikian, tidak mungkin dapat dilakukan, karena manusia terbatas sementara Tuhan Maha tidak terbatas. Jadi pemikiran manusia tidak akan sampai menjamah dzat Tuhan. Sehingga kalau dilakukan, hal ini dapat menjerumuskan manusia kepada kekufuran.
Oleh karena itu, cara mengenal Tuhan dalam Islam, yang dimaksud adalah mengkaji tentang manifestasi-manifestasi Tuhan di alam jagat raya ini. Atau bahasa lainnya mengkaji dan memikirkan tentang ciptaan Tuhan. Manakala seseorang mampu memahami hakikat adanya ciptaan Tuhan, dan manifestasi Tuhan yang mewujud di alam raya ini, niscaya dia mengenal Tuhan-Nya.
فَقَالَ النّبِيُّ ص : تَفَكَّرُوْا فِيْ خَلْقِ اللهِ وَلَا تَتَفَكَّرُوْا فِي اللهِ، فَإِنَّكُمْ لَنْ تَقْدُرُوْا قَدْرَهُ - الحديث
Nabi SAW bersabda,“Fikirkanlah tentang ciptaan Allah, jangan kau pikirkan tentang dzat Allah, karena sesungguhnya (jika memikirkan dzat Allah), kamu tidak akan mampu menakarnya.”
Atau dalam bahasa lainnya, manusia dapat mengenal Tuhan, dengan membenarkan keberadaan Tuhan, kemudian meyakini dia Tunggal (Esa), lalu ikhlas dan meniadakan sifat-sifat Tuhan. Karena antara dzat dan sifat itu berbeda. Ketika seseorang menyifati Tuhan, maka dia telah membuat Tuhan menjadi berbilang, tidak Esa lagi. Sebagaimana disebutkan oleh Sayyidina Ali KW :
"أَوَّلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَتُهُ وَكَمَالُ مَعْرِفَتِهِ التَّصْدِيْقُ بِهِ وَكَمَالُ التَّصْدِيْقُ بِهِ تَوْحِيْدُهُ وَكَمَالُ تَوْحِيْدِهِ اَلْإِخْلَاصُ لَهُ وَنَفْيُ الصِّفَاتِ عَنْهُ"
“Permulaan beragama itu adalah mengenal-Nya (ma’rifat Tuhan), dan sempurnanya ma’rifat Tuhan adalah dengan membenarkannya, dan sempurnanya pembenaran adalah meng-Esa-kan-Nya (tauhid), dan sempurnanya Tauhid adalah ikhlas kepada-Nya dan meniadakan sifat-sifat dari-Nya.”
Baca juga : Pengertian Islam menurut bahasa dan istilah
Ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Mengenal Tuhan dalam Islam begitu penting. Karena dengan mengenal Tuhan dengan benar, maka seseorang akan sayang dan dapat memanifestasikan cintanya kepada Tuhan dengan benar pula. Dan Tuhanpun akan sayang dan mencintai dirinya.
Mengenal Tuhan dalam Islam adalah suatu bahasan yang utama dan pokok (ushuul al-diin) bagi seseorang yang belajar mengkaji Islam. Oleh karena itu, kajian tentang mengenal Tuhan harus didahulukan daripada kajian-kajian lainnya yang bersifat cabang (furuu’ al-diin).
Karena begitu sangat pentingnya mengenal Tuhan dalam Islam, sehingga orang yang tidak mengenal Tuhannya dalam Islam ketika beribadah, maka ibadahnya tergolong ibadah yang tertolak alias tidak sah. Secara logika saja masuk akal, bagaimana mungkin dia menyembah Tuhan, wong Tuhannya saja belum dia kenal.
Al-Imam al-Ghazali berkata:لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengenal (Allah) yang wajib disembah”.
Bagaimana Cara Mengenal Tuhan Dalam Islam
Cara mengenal Tuhan dalam Islam, tentu kita harus batasi. Dalam arti bahwa mengenal Tuhan bukan dalam skala diri-Nya, bukan mengkaji dan mengenal dzat-Nya. Upaya tersebut tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Karena hal demikian, tidak mungkin dapat dilakukan, karena manusia terbatas sementara Tuhan Maha tidak terbatas. Jadi pemikiran manusia tidak akan sampai menjamah dzat Tuhan. Sehingga kalau dilakukan, hal ini dapat menjerumuskan manusia kepada kekufuran.
Oleh karena itu, cara mengenal Tuhan dalam Islam, yang dimaksud adalah mengkaji tentang manifestasi-manifestasi Tuhan di alam jagat raya ini. Atau bahasa lainnya mengkaji dan memikirkan tentang ciptaan Tuhan. Manakala seseorang mampu memahami hakikat adanya ciptaan Tuhan, dan manifestasi Tuhan yang mewujud di alam raya ini, niscaya dia mengenal Tuhan-Nya.
فَقَالَ النّبِيُّ ص : تَفَكَّرُوْا فِيْ خَلْقِ اللهِ وَلَا تَتَفَكَّرُوْا فِي اللهِ، فَإِنَّكُمْ لَنْ تَقْدُرُوْا قَدْرَهُ - الحديث
Nabi SAW bersabda,“Fikirkanlah tentang ciptaan Allah, jangan kau pikirkan tentang dzat Allah, karena sesungguhnya (jika memikirkan dzat Allah), kamu tidak akan mampu menakarnya.”
Atau dalam bahasa lainnya, manusia dapat mengenal Tuhan, dengan membenarkan keberadaan Tuhan, kemudian meyakini dia Tunggal (Esa), lalu ikhlas dan meniadakan sifat-sifat Tuhan. Karena antara dzat dan sifat itu berbeda. Ketika seseorang menyifati Tuhan, maka dia telah membuat Tuhan menjadi berbilang, tidak Esa lagi. Sebagaimana disebutkan oleh Sayyidina Ali KW :
"أَوَّلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَتُهُ وَكَمَالُ مَعْرِفَتِهِ التَّصْدِيْقُ بِهِ وَكَمَالُ التَّصْدِيْقُ بِهِ تَوْحِيْدُهُ وَكَمَالُ تَوْحِيْدِهِ اَلْإِخْلَاصُ لَهُ وَنَفْيُ الصِّفَاتِ عَنْهُ"
“Permulaan beragama itu adalah mengenal-Nya (ma’rifat Tuhan), dan sempurnanya ma’rifat Tuhan adalah dengan membenarkannya, dan sempurnanya pembenaran adalah meng-Esa-kan-Nya (tauhid), dan sempurnanya Tauhid adalah ikhlas kepada-Nya dan meniadakan sifat-sifat dari-Nya.”
Tetapi sebenarnya, karena manusia di muka bumi ini memiliki banyak latar belakang yang beragam, ada yang materialis, ada yang non muslim, ada yang anti agama, bahkan ada yang atheis (anti Tuhan).
Sehingga secara universal, sebenarnya Cara mengenal Tuhan dalam Islam dapat digolongkan menjadi 3 cara, yaitu :
(1). Cara Rasional (Burhan Imkan dan Wujub)
Mengenal Tuhan dalam Islam dengan cara rasional dapat dikatakan sebagai pengenalan Tuhan dengan menggunakan akal (dalil aqli). Di sinilah sebagai orang beragama harus menggunakan akal sehatnya, bahkan untuk mengenal Tuhannya. قَالَ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وآله): قِوَامُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ، وَلَا دِيْنَ لِمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ.
Nabi SAW bersabda,”kelurusan seseorang terletak pada akalnya, dan tidak disbut beragama orang yang tidak menggunakan akalnya.”
قَالَ رَسُولُ اللهِ ( صلى الله عليه و آله ) : " إِنَّمَا يُدْرَكُ الْخَيْرُ كُلُّهُ بِالْعَقْلِ ، وَ لَا دِينَ لِمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ
Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya diperolehnya semua kebaikan adalah dengan akal, dan tidak disebut beragama, orang yang tidak menggunakan akalnya.”
Hal ini dapat dilakukan dengan membuktikan adanya ciptaan dan pencipta. Adanya benda yang dibuat dan sang pembuat benda. Contoh sederhananya, kita melihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika di rumah, kita temukan ada meja dan kursi. Akal kita berfikir, tidak mungkin meja dan kursi ada dengan sendirinya. Pasti ada yang membuatnya. Dan yang membuatnya adalah orang yang punya kemampuan membuat meja dan kursi, seperti para tukang kayu. Tukang kayu membuat meja dan kursi, kemudian mereka menjualnya ke toko mebel, dan kita membelinya untuk dipakai di rumah. Sehingga kita mengenal bahwa pasti ada yang membuat meja dan kursi.
Dalam konteks mengenal Tuhan secara akal dapat kita contohkan dalam kehidupan kita. Kita melihat bumi terhampar luas, maka secara logika tidak mungkin bumi ada begitu saja dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan. Kita melihat langit, maka secara akal sehat kita dapat katakan bahwa pasti ada yang menciptakan langit. Yang menciptakan langit dan bumi, pasti yang lebih besar dari keduanya. Yang Maha dalam segala-galanya. Dalam Islam, penciptanya adalah Tuhan, bukan yang lain. Orang Islam mengenal Tuhannya dengan sebutan Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali 'Imran Ayat 190 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
2. Cara empirik (Argumen Keteraturan)
Cara empirik berkaitan dengan mengenal Tuhan dalam Islam, dapat dilakukan melalui pembuktian secara penemuan-penemuan, dan pengamatan yang dilakukan oleh indra manusia. Pembuktian cara empirik ini mengedepankan argumen-argumen keteraturan. Bahwa segala sesuatu yang ada di jagat alam raya ini, baik langit, bumi, matahari, bulan, bintang, planet-planet, gunung-gunung, lautan, sungai, dan sebagainya merupakan bukti adanya ciptaan yang sangat beraturan tanpa ada tabrakan dan kekacauan.
Sehingga secara universal, sebenarnya Cara mengenal Tuhan dalam Islam dapat digolongkan menjadi 3 cara, yaitu :
(1). Cara Rasional (Burhan Imkan dan Wujub)
Mengenal Tuhan dalam Islam dengan cara rasional dapat dikatakan sebagai pengenalan Tuhan dengan menggunakan akal (dalil aqli). Di sinilah sebagai orang beragama harus menggunakan akal sehatnya, bahkan untuk mengenal Tuhannya. قَالَ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وآله): قِوَامُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ، وَلَا دِيْنَ لِمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ.
Nabi SAW bersabda,”kelurusan seseorang terletak pada akalnya, dan tidak disbut beragama orang yang tidak menggunakan akalnya.”
قَالَ رَسُولُ اللهِ ( صلى الله عليه و آله ) : " إِنَّمَا يُدْرَكُ الْخَيْرُ كُلُّهُ بِالْعَقْلِ ، وَ لَا دِينَ لِمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ
Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya diperolehnya semua kebaikan adalah dengan akal, dan tidak disebut beragama, orang yang tidak menggunakan akalnya.”
Hal ini dapat dilakukan dengan membuktikan adanya ciptaan dan pencipta. Adanya benda yang dibuat dan sang pembuat benda. Contoh sederhananya, kita melihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika di rumah, kita temukan ada meja dan kursi. Akal kita berfikir, tidak mungkin meja dan kursi ada dengan sendirinya. Pasti ada yang membuatnya. Dan yang membuatnya adalah orang yang punya kemampuan membuat meja dan kursi, seperti para tukang kayu. Tukang kayu membuat meja dan kursi, kemudian mereka menjualnya ke toko mebel, dan kita membelinya untuk dipakai di rumah. Sehingga kita mengenal bahwa pasti ada yang membuat meja dan kursi.
Dalam konteks mengenal Tuhan secara akal dapat kita contohkan dalam kehidupan kita. Kita melihat bumi terhampar luas, maka secara logika tidak mungkin bumi ada begitu saja dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan. Kita melihat langit, maka secara akal sehat kita dapat katakan bahwa pasti ada yang menciptakan langit. Yang menciptakan langit dan bumi, pasti yang lebih besar dari keduanya. Yang Maha dalam segala-galanya. Dalam Islam, penciptanya adalah Tuhan, bukan yang lain. Orang Islam mengenal Tuhannya dengan sebutan Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali 'Imran Ayat 190 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
2. Cara empirik (Argumen Keteraturan)
Cara empirik berkaitan dengan mengenal Tuhan dalam Islam, dapat dilakukan melalui pembuktian secara penemuan-penemuan, dan pengamatan yang dilakukan oleh indra manusia. Pembuktian cara empirik ini mengedepankan argumen-argumen keteraturan. Bahwa segala sesuatu yang ada di jagat alam raya ini, baik langit, bumi, matahari, bulan, bintang, planet-planet, gunung-gunung, lautan, sungai, dan sebagainya merupakan bukti adanya ciptaan yang sangat beraturan tanpa ada tabrakan dan kekacauan.
Hal ini membuktikan bahwa pasti ada suatu dzat yang mengaturnya. Dan pasti yang mengaturnya adalah dzat yang maha dalam segalanya. Dan yang mengatur jagat alam raya ini pasti satu wujud yang Esa, tidak mungkin berbilang. Sebab, secara logika, jika yang mengatur jagat alam raya ini, berjumlah lebih dari satu, maka niscaya alam menjadi hancur berantakan, karena terjadi rebutan pengaturan. Nah, di dalam Islam diyakini bahwa dzat yang mengatur segalanya itulah disebut Tuhan. Dan salah satu nama Tuhan dalam Islam disebut sebagai Allah.
Al-Quran Surat Al-Anbiya Ayat 22 menjelaskan :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”
3. Cara hati (Argumen Fitrah)
Mengenal Tuhan dalam Islam dengan cara hati, dapat dilakukan seseorang dengan menempuh jalan spiritual secara irfan, yang diawali dengan irfan teori kemudian dilanjutkan dengan irfan praktisi. Jalur hati dalam mengenal Tuhan dapat dipahami melalui argumentasi secara fitrah (baca:kesucian). Bahwa untuk mengenal Tuhan yang suci, manusia juga juga meniscayakan dirinya dalam kesucian.
Al-Quran Surat Al-Anbiya Ayat 22 menjelaskan :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”
3. Cara hati (Argumen Fitrah)
Mengenal Tuhan dalam Islam dengan cara hati, dapat dilakukan seseorang dengan menempuh jalan spiritual secara irfan, yang diawali dengan irfan teori kemudian dilanjutkan dengan irfan praktisi. Jalur hati dalam mengenal Tuhan dapat dipahami melalui argumentasi secara fitrah (baca:kesucian). Bahwa untuk mengenal Tuhan yang suci, manusia juga juga meniscayakan dirinya dalam kesucian.
Karena manusia mempunyai potensi untuk selalu melakukan perbuatan buruk, dosa dan maksiat, maka dia harus melakukan latihan-latihan (riyadhah), agar dirinya kembali kepada fitrah. Manusia harus mengosongkan jiwanya dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Manusia harus menampakkan perbuatan-perbuatan baik di hadapan Tuhan. Manusia harus mampu memadamkan api neraka di dalam jiwanya. Dalam bahasa lain, manusia harus melakukan penyucian diri (tazkiyah al-nafs), untuk mengenal dan mendekat ke sisi Tuhannya. Dengan upaya-upaya tersebut, niscaya dirinya akan mendekat ke sisi Tuhannya. Dirinya akan mendapatkan anugerah penyaksian (musyahadah) dan terbukanya hijab-hijab (mukasyafah).
Disebutkan di dalam Surat Ar-Rum Ayat 30 :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Sehingga, dengan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengenal Tuhan, dan manusia telah benar-benar mengenal Tuhannya, maka secara otomatis dia mengenal dirinya sendiri. Dirinya berasal dari mana, untuk apa diciptakan, dan mau kemana kembali. Itulah hakikat penciptaan manusia. Dari Tuhan, oleh Tuhan, dan kembali kepada Tuhan.
Disebutkan dalam dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal :
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Siapa yang telah mengenal dirinya, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya.”
Baca juga : Korelasi iman, amal shaleh dan akhlak baik
Demikianlah, pembahasan tentang mengenal Tuhan dalam Islam. Semoga kita semua berupaya mengenal Tuhan dengan baik dan benar. Sehingga, kita dapat kembali kepada Tuhan dengan kesempurnaan manusia yang sesungguhnya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Sehingga, dengan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengenal Tuhan, dan manusia telah benar-benar mengenal Tuhannya, maka secara otomatis dia mengenal dirinya sendiri. Dirinya berasal dari mana, untuk apa diciptakan, dan mau kemana kembali. Itulah hakikat penciptaan manusia. Dari Tuhan, oleh Tuhan, dan kembali kepada Tuhan.
Disebutkan dalam dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal :
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Siapa yang telah mengenal dirinya, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya.”
Baca juga : Korelasi iman, amal shaleh dan akhlak baik
Demikianlah, pembahasan tentang mengenal Tuhan dalam Islam. Semoga kita semua berupaya mengenal Tuhan dengan baik dan benar. Sehingga, kita dapat kembali kepada Tuhan dengan kesempurnaan manusia yang sesungguhnya.

EmoticonEmoticon