Sabtu, 18 Agustus 2018

Larangan Menyakiti Orang Lain

Larangan menyakiti orang lain. Benarkah menurut Islam menyakiti orang lain itu dilarang ?Bagaimana hukumnya menyakiti orang lain ? entah menyakiti secara fisik seperti bagian tubuhnya atau menyakiti secara batin seperti menyakiti hatinya ?
Secara manusiawi saja tentu menyakiti orang lain tidak dapat ditolerir ? apalagi menurut perundangan-undangan yang berlaku, apalagi menurut hukum Islam. Sangat jelas bahwa menyakiti orang lain sangat dilarang dalam Islam. Makanya, disini kita akan membahas secara detail bagaimana larangan menyakiti orang lain menurut Islam.
Dalam Surat Al-Ahzab ayat 58 disebutkan :

 وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Al-Ahzab : 58)
larangan menyakiti orang lain
Menurut ayat tersebut, bahwa menyakiti orang lain baik laki-laki atau perempuan tanpa kesalahan, adalah tergolong orang yang melakukan dosa yang nyata.
Dalam tafsirnya, mengenai Surat Al-Ahzab ayat 58, Quraish Shihab, menyebutkan sebagai berikut,”Dan orang-orang yang menyakiti laki-laki atau wanita beriman yang tidak bersalah, melalui ungkapan kata atau perbuatan, mereka akan menanggung dosa lantaran kebohongan itu dan mereka sesungguhnya telah melakukan perbuatan dosa yang teramat buruk.”
Sedangkan Tafsir al-jalaalain menyebutkan,”Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat (tanpa kesalahan yang mereka perbuat) yaitu menuduh mereka mengerjakan hal-hal yang tidak mereka lakukan (maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan) melancarkan tuduhan bohong (dan dosa yang nyata) yakni perbuatan yang nyata dosanya.” 
Di dalam kitab Raudlah al-Waa’idhiin, juz 2 hal. 293, disebutkan sebuah hadis dari Rasulullah SAW :قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) : مَنْ آذَى مُؤْمِنًا فَقَدْ آذَانِيْ، وَمَنْ آذَانِيْ فَقَدْ آذَى اللهَ عَزَّوَجَلَّ، وَمَنْ آذَى اللهَ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَالْفُرْقَانِ
Rasulullah SAW bersabda,”siapa yang menyakiti seorang mukmin, maka sungguh telah menyakiti aku, dan siapa yang menyakiti aku maka sungguh telah menyakiti Allah ‘azza wa jalla, dan siapa yang menyakiti Allah, maka dia terlaknat baik menurut kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Furqan (al-Quran).” 
Kalau kita cermati hadis tersebut, justru lebih berat lagi keadaan orang yang menyakiti orang lain tanpa kesalahan yang diperbuatnya, sama seperti dia menyakiti Nabi SAW dan menyakiti Allah SWT. Dan orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dirinya menjadi manusia terlaknat, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat, dan kelak dia mendapat siksa yang hina. sebagaimana tertera dalam banyak kitab-kitab samawi, termasuk al-quran. Mari kita lihat bukti dari al-quran, dalam Surat Al-Ahzab ayat 57 disebutkan :
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا
"Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan."
Begitu perhatiannya Islam dalam hal larangan menyakiti orang lain. Bahkan di dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang menyakiti orang lain, meski dengan ucapan kecil atau ucapan remeh tetapi menyakiti orang tersebut, di akhirat nanti dijauhkan dari rahmat Allah, dan menanggung dosa yang berat bagaikan doa menghancurkan rumah Allah yang suci, dan dosanya sama seperti membunuh 10.000 malaikat.
Di dalam kitab Irsyaad al-Quluub, juz 1 hal. 119, disebutkan sebuah hadis Nabi SAW yang berbunyi sebagai berikut :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ (ص) : مَنْ آذَى مُؤْمِنًا وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسًا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ، وَكَانَ كَمَنْ هَدَمَ الْكَعْبَةَ وَالْبَيْتَ الْمُقَدَّسَ، وَقَتَلَ عَشَرَةَ آلَافٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ 
“Rasulullah SAW bersabda,”siapa yang menyakiti seorang mukmin, meskipun dengan ucapan setengah kata, dia akan datang pada hari kiamat tercatat diantara kedua matanya dalam keadaan menjadi orang yang berputus asa dari rahmat Allah, dan keadaannya seperti orang yang merobohkan ka’bah dan baitul maqdis, dan seperti membunuh sepuluh ribu malaikat.” 
Bahkan disebutkan dalam sebuah hadis qudsi, yang diceritakan oleh Imam Ja’far Shadiq, bahwa Allah SWT benar-benar mengizinkan untuk memerangi orang yang menyakiti kaum mukmin lainnya.
قَالَ اللّهُ عَزَّوَجَلَّ : لَيَاْذَنَ بِحَرْبٍ مِنِّيْ مَنْ آذَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ.
Allah SWT berfirman (hadis qudsi) : Sungguh benar-benar mendapatkan izin perang dari-Ku, siapa yang menyakiti hamba-Ku yang mukmin.”
Oleh karena itu, dengan adanya pengetahuan tentang ancaman bagi orang yang menyakiti orang lain, yang kita baca dari ayat-ayat suci maupun hadis-hadis Nabi SAW, hendaklah membuat kita berhati-hati dalam berkata dan berbuat ketika kita bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Jangan sampai lidah atau perbuatan kita menyakiti dirinya, yang menyebabkan kita terjerumus ke dalam dosa yang berat.
Sebab, menurut Islam, jangankan menyakiti orang lain, membuat sedih orang muslim lainnya saja dilarang di dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat yang berasal dari Sayyidina Ali KW :
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk  membuat sedih orang muslim lainnya.”
Bagaimana Cara Menahan Diri Dari Menyakiti Orang Lain
Setelah kita mengetahui secara keilmuan, bahwa menyakiti orang lain adalah perbuatan yang dilarang Islam, maka kita harus berusaha menjaga diri kita agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan tersebut. Banyak cara yang dapat kita lakukan, diantaranya :
(1). Berfikir dulu sebelum berbuat. Gunakan akal sehat kita, dan takarlah dengan diri sendiri. Apakah jika kita disakiti entah secara fisik maupun disakiti hatinya, apakah kita sendiri merasa sakit ? kalau jawaban iya, berarti kita harus menyadarinya, kita saja jika disakiti kita merasakan sakit, maka orang lain pun jika kita sakiti pasti merasakan hal yang sama. Sehingga dengan menyadari akan hal ini, maka kita akan berfikir dua kali, jika kita akan berbuat menyakiti orang lain.

Baca juga : pengertian Islam menurut bahasa dan istilah
(2). Kita harus menyadari bahwa segala apa yang kita perbuat akan mendapat balasan dari Allah SWT, entah balasan di dunia, dan sudah pasti balasan di akhirat. Sehingga kita akan berusaha, menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. Termasuk perbuatan menyakiti orang lain.

Baca juga : jihad besar melawan hawa nafsu
(3). Kita harus sungguh-sungguh dengan sekuat tenaga, untuk melawan hawa nafsu jika muncul dorongan nafsu kita yang berupaya untuk menyakiti orang lain. Disinilah kita harus melakukan jihad besar. Jihad melawan hawa nafsu, agar tidak menyakiti orang lain. Karena dengan kita menahan diri dari menyakiti orang lain, selain akan terhindar dari dosa, maka menurut Nabi SAW, hal itupun termasuk perbuatan sedekah terhadap diri sendiri. Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat :
قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ (ص ) : كُفَّ اَذَاكَ عَنِ النَّاسِ, فَاِنَّهُ صَدَقَةٌ تَصَدَّقُ بِهَا عَلى نَفْسِكَ.
“Rasulullah Saw bersabda:”tahanlah perbuatanmu yang menyakiti orang lain, karena hal itu merupakan sedekah yang dengannya engkau bersedekah atas dirimu.” 
Baca juga : Belajar menjadi orang dermawan
Demikianlah, pemaparan mengenai larangan menyakiti orang lain, kita berlindung kepada Allah SWT semoga kita terhindar dari perkataan maupun perbuatan yang dapat menyakiti orang lain. Dan kita berusaha membiasakan diri sendiri, agar dalam kehidupan sehari-hari saat bergaul dan berinteraksi dengan orang lain, kita menjaga perkataan dan perbuatan jangan sampai menyakiti orang lain. Sehingga kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang berat.

=========
(*) Disampaikan oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag pada Pengajian Bulanan Masjid At-Tarbawy - Pesantren Az-Zahra Kel. Srengseng – Kec. Kembangan Jakarta Barat, pada Hari Sabtu,  26 Februari 2011 Ba’da Maghrib s/d Isya’.

Jumat, 17 Agustus 2018

Hikmah Kemerdekaan, Ibadah Haji dan Kurban

Hari ini Jumat tanggal 17 Agustus 2018 M bertepatan dengan tanggal 5 Dzulhijjah 1439 H. Jika kita melihat sejarah, maka kita dapat melihat ada beberapa peristiwa besar khususnya ummat Islam Indonesia.
Pertama, peristiwa kemerdekaan. Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah SWT yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur, di bulan Agustus 73 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 (hari dan tanggalnya sama dengan hari ini), bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Bangsa Indonesia meyakini bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Sehingga, setelah melalui pengorbanan yang berat dan perjuangan yang panjang, akhirnya kemerdekaan dapat diraih oleh bangsa Indonesia.
Kedua, peristiwa ibadah haji dan kurban. Sebagai ummat Islam, kita sekarang berada di bulan Dzulhijjah, termasuk salah satu bulan dari 4 bulan asyhurul hurum, bulan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Dimana di bulan ini juga terdapat peristiwa besar dan monumental bersejarah, yaitu ibadah haji dan kurban yang dirintis oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Kini ummat Islam seluruh dunia tengah menunaikan rukun Islam ke-5, yaitu menunaikan ibadah haji di baitullah al-haram. Dan nanti tanggal 10 Dzulhijjah, kita akan merayakan idul adha, dengan melakukan pengorbanan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu.
Kalau kita korelasikan antara peristiwa kemerdekaan Indonesia dengan ibadah haji dan kurban, maka kita dapat menyimpulkan ada beberapa kesamaan sebagai berikut :
 (1). Kesamaan Dalam Hal Pengorbanan.
Bahwa untuk mencapai kemerdekaan, bangsa Indonesia mendapatkannya tidak dengan cara yang mudah, tapi harus melalui perjuangan yang panjang, diawali dengan melawan para penjajah saat itu. Dimana mereka para pejuang banyak mengorbankan harta, waktu, jiwa dan raganya. Dan dengan ikhtiar serta perjuangan itulah, akhirnya rahmat Allah SWT diturunkan kepada bangsa Indonesia dengan anugerah kemerdekaan.
 Dalam peristiwa ibadah haji dan kurban, jauh sebelum kedua ibadah tersebut disyariatkan untuk ummat Islam. Dulu kita melihat peristiwa yang monumental dan bersejarah. Nabi Ibrahim AS yang dengan ikhlas dan yakin akan perintah Allah melalui mimpi, agar ia menyembelih dan mengorbankan Ismail, putra yang sangat dicintainya. Tetapi tentunya itu bukan hakikat dari perintah Allah SWT. Itu hanyalah ujian buat Nabi Ibrahim AS. Apakah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya. Dan Ismail yang saleh serta ikhlas, meyakini dan menerima perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim dan Ismail, mampu melawan godaan setan, yang ingin menggagalkan rencana penyembelihan. Dan akhirnya Allah SWT menggantinya dengan yang lebih baik, berupa domba sebagai pengganti pengorbanannya. Sehingga, Nabi Ibrahim melewati semua ujian yang datang dari Allah SWT.
Dari Sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut, sesungguhnya mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai pengorbanan, baik pengorban harta maupun segala sesuatu yang dicintainya.
Pun dalam konteks sekarang, peristiwa ibadah haji di bulan dzulhijjah ini, dimana pelaku Ibadah haji harus siap mengorbankan harta benda, waktu dan tenaganya. Dalam ibadah kurban yang akan dilakukan pada idul adha nanti juga sama, bahwa Ummat Islam harus mengorbankan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(2). Kesamaan Prinsip Kemerdekaan
Dalam QS. al-Baqarah ayat 126, Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Dalam ayat yang lain yang serupa dengan ayat di atas ada di QS. Ibrahim ayat 35:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”

Kalau kita cermati dari kedua ayat itu saja, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, melalui doa-doanya Nabi Ibrahim sesungguhnya merupakan bapak pelopor kemerdekaan bagi ummat manusia. Dalam doanya Nabi Ibrahim, ingin agar negerinya menjadi aman sentosa tidak ada gangguan dan ancaman, baik dari dalam maupun dari luar. Inilah prinsip nasionalisme Nabi Ibrahim yang dapat direalisasikan dalam bentuk cinta tanah air. Karena cinta tanah air bagian dari iman (hub al-wathan min al-iimaan). Sehingga dari nasionalisme inilah dapat melahirkan kemerdekaan dari suatu bangsa.
Nabi Ibrahim AS menginginkan agar ummatnya merdeka dalam beberapa hal : (1). Merdeka dari kekacauan negara sehingga negara menjadi merdeka dalam segala hal dan menjadi aman sentosa (2). Merdeka dari kemiskinan, sehingga penduduknya mendapat banyak rezeki berlimpah, menjadi cukup dan sejahtera secara ekonomi. (3). Merdeka dari kekufuran dan berhala sembahan selain Allah SWT.
Kita sebagai bangsa Indonesia, mendapatkan anugerah kemerdekaan karena adanya rahmat Allah SWT dan melalui perjuangan yang sangat panjang. Semoga kita pun dapat meneladani Nabi Ibrahim AS. Agar kita memperoleh kemerdekaan dalam banyak hal. Merdeka dari kekacauan negara sehingga negara kita menjadi merdeka dalam segala hal, bukan hanya merdeka hanya sebatas formal. Masyarakat kita harus merdeka dari kemiskinan, baik kemiskinan ekonomi maupun kemiskinan ilmu, sehingga penduduknya menjadi cukup dan sejahtera secara ekonomi dan memiliki kecakapan dalam ilmu pengetahuan. Dan masyarakat kita harus merdeka dari segala macam bentuk kekufuran dan segala macam bentuk berhala dan sembahan selain Allah SWT.
Selain ketiga kemerdekaan yang dicita-citakan tersebut, ada 2 kemerdekaan lagi yang terpenting khususnya bagi kita ummat Islam.

(1). Merdeka dari godaan hawa nafsu dan godaan setan.
Dulu para pejuang kemerdekaan, mereka berjihad di jalan Allah untuk melawan penjajahan dan itu termasuk jihad kecil.  Ada lagi musuh yang paling besar dalam kehidupan kita yaitu hawa nafsu. Setelah ummat Islam mampu melawan musuh para penjajah, dan itu disebut perang kecil (al-jihaad al-ashghar), maka kita menuju perang besar (al-jihaad al-akbar). Siapa musuh dalam perang besar ? musuhnya adalah diri sendiri ? musuhnya adalah hawa nafsu kita. Manakala kita mampu berperang melawan musuh hawa nafsu, berarti kita telah menyelesaikan jihad besar. Dan itu terjadi secara terus menerus, sepanjang hidup kita. 
Dalam sebuah hadis disebutkan :
قَالَ رَسُولُ اللهِ ص م : مَرْحَبًا بِقَوْمٍ قَضَوْا الْجِهَادَ الأَصْغَرَ، وَبَقِيَ عَلَيْهِمْ الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ النّفْسِ.
Rasul SAW, berkata :”selamat datang para kaum yang telah menyelesaikan kewajiban jihad kecil, tapi bagi mereka menyisakan kewajiban jihad besar. Mereka bertanya Ya Rasulullah, apakah jihad besar itu ? Rasul SAW menjawab :”jihad mengendalikan diri, melawan hawa nafsu.”

Disamping kita melawan musuh hawa nafsu yang ada pada diri, kita pun harus mampu mengalahkan musuh manusia yang nyata, yaitu setan laknatullah.
 ( (وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Baca juga : Jihad Besar Melawan Hawa Nafsu
(2). Merdeka dalam pengabdian kepada Allah

Setelah kita mampu merdeka dari musuh hawa nafsu dan musuh godaan setan. Selanjutnya hendaknya pula kita merdeka dalam pengabdian kepada Allah SWT. Bagaimana yang disebut merdeka dalam pengabdian kepada Allah. Yaitu dalam pengabdian hendaklah kita jangan cuma ingin mendapatkan surga, atau kita ibadah karena takut akan siksa neraka. Tetapi lebih dari itu, kita beribadah kepada Allah, karena kita cinta kepada-Nya, karena kita bersyukur kepada Allah SWT.
Sayyidina Ali KW berkata :
إِنَّ قَوْماً عَبَدُوا اللهَ رَغْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ التُّجَّارِ، وَإِنَّ قَوْماً عَبَدُوا اللهَ رَهْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْعَبِيدِ، وَإِنَّ قَوْماً عَبَدُوا اللهَ شُكْراً فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأَحْرَارِ.
“Sesungguhnya, segolongan kaum menyembah Allah karena ingin (surga), maka itu ibadahnya para pedagang, dan ada segolongan kaum yang menyembah Allah karena takut (siksa), itulah ibadahnya para budak/hamba sahaya, dan ada segolongan kaum yang menyembah Allah karena rasa syukur, itulah ibadahnya orang-orang merdeka.”
Realisasi dari ibadah yang merdeka adalah ketika kita melaksanakan shalat, maka shalat yang kita lakukan karena kita cinta dan bersyukur kepada Allah SWT, bukan karena ingin surga dan takut neraka. Manakala kita menunaikan ibadah puasa, maka puasa kita bukan karena ingin surga dan takut neraka, tapi karena kita cinta kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya.
Kita menunaikan ibadah haji, bukan karena ingin surga dan takut neraka, apalagi jika ingin dipuji dan ingin dipanggil haji, tetapi ibadah haji yang kita lakukan karena kita cinta kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Kita menyembelih hewan kurban, bukan karena ingin dapat surga dan takut siksaan, apalagi kalau namanya ingin disebut-sebut dan diumumkan, tetapi karena kita ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, cinta kepada Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya, sebagai hamba yang beriman. Inilah ciri-ciri ibadahnya orang merdeka. Yaitu ibadah yang dilakukan karena manifestasi syukur kepada Tuhan.

Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga melalui momentum kemerdekaan Indonesia yang ke 73, serta peristiwa ibadah haji dan kurban, kita dapat merasakan kemerdekan dalam banyak hal dan keadaan. Merdeka dari penjajahan global sehingga negara kita tetap aman. Merdeka dari kemiskinan, baik secara ekonomi maupun keilmuan. Merdeka dari kekufuran dan berhala sebagai sembahan. Merdeka dari godaan hawa nafsu dan godaan setan. Dan merdeka dalam hal pengabdian kepada Tuhan. 


==========

(*) Khutbah Jumat, disampaikan oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag di Masjid At-Tawwaab, Larangan Indah – Larangan – Kota Tangerang, tanggal 17 Agustus 2018 M / 5 Dzulhijjah 1439 H.







































Rabu, 08 Agustus 2018

Targhib dan Tarhib Ibadah Haji

Targhib dan Tarhib Ibadah haji bagi umat Islam dapat dijadikan sebagai sarana evaluasi diri, dengan targhib (dorongan) agar dia termotivasi untuk melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar. Di sisi lain, dengan tarhib (ancaman) agar umat Islam yang sudah memiliki kemampuan baik jasmani, rohani dan materi jangan sampai meremehkan bahkan meninggalkan kewajiban ibadah haji.
Kata Targhib berasal dari bahasa Arab “raghghaba – yuraghghibu – targhiiban” yang berarti membujuk, menyemangati, memberi dorongan, memberi motivasi. Sedangkan kata Tarhib berasal dari kata “rahhaba – yurahhibu – tarhiiban” yang berarti menakut-nakuti, memberi ancaman.
Dengan adanya targhib dan tarhib ibadah haji niscaya menjadikan umat Islam lebih semangat lagi dalam melaksanakan ibadah haji. Hal itupun sangat terbukti dengan kian bertambahnya calon jamaah haji tiap tahun, khususnya umat Islam Indonesia. Bahkan karena keterbatasan kuota haji, calon jamaah haji harus bersabar menunggu gilirannya sampai bertahun-tahun, 5 tahunan bahkan sampai 8 tahunan untuk dapat melaksanakan ibadah haji.

targhib dan tarhib ibadah haji

Dan di bulan Dzulhijjah inilah syariat ibadah haji dilaksanakan dan diikuti oleh umat Islam seluruh dunia. Dan lebih khususnya, kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga saudara-saudara kita kaum muslimin dan muslimat, khususnya jamaah haji Indonesia, baik yang masih hidup maupun yang meninggal di sana, semoga mereka mendapat predikat haji smabrur, hajinya diterima oleh Allah SWT.
اَللّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْر
“Ya Allah, jadikanlah mereka haji yang mabrur, usaha yang disyukuri, dosanya diampuni, perniagaan yang tidak merugi.”
Baca juga : Predikat Haji Mabrur Menurut Islam

Dan bagi saudara-saudara kita yang sudah terdaftar namanya, namun masih dalam masa tunggu karena keterbatasan kuota, semoga dipercepat oleh Allah SWT kepergiannya melaksanakan rukun Islam kelima. Juga, kita dan saudara-saudara yang lain yang belum berniat dan belum berkesempatan merencanakan ibadah haji, semoga diberikan kesempatan dan keluasan rizki agar dapat menunaikan ibadah haji pada tahun-tahun mendatang.
اَللّهَمَّ ارْزُقْنَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ فِيْ هذَا الْعَامِ وَ فِيْ كُلِّ عَامٍ

“Ya Allah, anugerahkan kepada kami kesempatan menunaikan ibadah haji ke baitul haram, pada tahun ini dan pada tahun-tahun berikutnya…”
Targhib Agar Melaksanakan Ibadah Haji
Ketika membahas tentang targhib dan tarhib ibadah haji, maka kita pun akan mencari dalil-dalil agama yang menguatkannya, baik dari al-quran maupun hadis Nabi. Dalam Islam ibadah haji termasuk rukun Islam ke-5 yang wajib dilakukan oleh seorang Muslim mukallaf yang memiliki kemampuan baik secara jasmani, rohani maupun materi. Salah satu dalil al-quran tentang kewajiban ibadah haji adalah surat Ali-Imran ayat 97.
......... وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ? وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ 
“…………..mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
Ibadah haji, selain sebagai kewajiban orang Islam, melaksanakan rukun Islam ke-5. Ibadah haji, juga mempunyai beberapa hikmah dan pelajaran. Di antaranya pelajaran yang dipetik dari peri kehidupan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Mulai dari thawaf mengelilingi ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, melontar jumrah, wukuf di Arafah, dll. Dan sebagai targhib untuk memberikan motivasi kepada umat Islam bahwa di dalam syariat ibadah haji sesungguhnya terdapat keutamaan-keutamaan (fadhiilah). 

Baca juga : Hikmah Kemerdekaan, Ibadah Haji dan Kurban
Beberapa Keutamaan Ibadah Haji

Pembahasan mengenai targhib dan tarhib ibadah haji, dapat dikemukakan mulai dari pahala yang didapatkan dan keutamaan berupa khasiat menunaikan ibadah haji. Seperti dijelaskan di bawah ini.
(1). Orang islam yang menunaikan ibadah haji, dan hajinya diterima Allah SWT, niscaya balasannya adalah surga. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis Nabi SAW.
     اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءْ اِلاّ الْجَنَّةَ "
“Haji yang mabrur, tidak ada balasannya, kecuali surga.”
(2). Orang yang menunaikan ibadah haji,  niscaya rezekinya akan dijamin oleh Allah SWT. Dia akan menjadi orang kaya dan terhindar dari kemiskinan. Seperti disebutkan dalam beberapa riwayat hadis.
قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ (ص) : حَجُّوْا تَسْتَغْنُوْا
“Berhajilah kalian, niscaya kalian menjadi kaya.”
 قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ (ص) : اَلْحَجُّ يَنْفِيَ الْفَقْرَ
“ibadah haji dapat menghilangkan kefakiran”
(3). Keutamaan haji dan umrah juga dapat menjadikan tubuh seseorang menjadi lebih sehat, rezekinya diluaskan oleh Allah SWT, berkat hajinya bahan makanan dirinya, keluarganya, dan orang lain akan dicukupkan, dan berkat hajinya akan menjadikan imannya menjadi lebih baik di sisi Allah SWT. Disebutkan di dalam riwayat dari Imam Zainal ‘Abidin.
حَجُّوْا وَاعْتَمِرُوْا, تَصِحُّ اَجْسَامَكُمْ, وَتَتَّسِعُ اَرْزَاقَكُمْ, وَيُصْلِحُ اِيْمَانَكُمْ, وَتَكْفُوْامَؤُوْنَةَ النَّاسِ وَمَؤُوْنَةَ عِيَالَاتِكُمْ
“Berhajilah dan berumrahlah, niscaya tubuh kalian menjadi sehat, rizki kalian menjadi luas, iman kalian menjadi baik, dan akan menjadi cukup bahan makanan manusia dan bahan makanan keluarga kalian.”
Tarhib (Ancaman) Meninggalkan Ibadah Haji 

Setelah membahas targhib (motivasi), dalam pembahasan targhib dan tarhib ibadah haji adalah tentang tarhib (ancaman). Selain adanya targhib (motivasi) agar umat Islam terdorong dan bersemangat dalam menunaikan rukun Islam ke-5, juga di dalam Islam diberikan tarhib (ancaman), bagi siapa pun yang meremehkan bahkan meninggalkan kewajiban ibadah haji padahal dia mampu baik secara jasmani, rohani maupun materi. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat di bawah ini. Sabda Nabi SAW yang ditunjukkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib KW.
(1). Orang yang meninggalkan ibadah haji, sedangkan dia orang yang mampu, maka digolongkan kategori orang kafir (ingkar).
تَارِكُ الْحَجِّ وَهُو يَسْتَطِيْعُ كَافِرٌ، قال الله تبارك وتعالى: " وللهِ عَلى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِليْه سَبِيلاً، وَمَنْ كَفَرَ فإنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ العَالَمِيْنَ ".
“Orang yang meninggalkan ibadah haji, sementara dia orang mampu, termasuk orang kafir. Firman Allah,”dan bagi Allah telah mewajibkan ibadah haji atas manusia, siapa yang mampu mencapai jalannya, dan siapa yang kafir maka Allah SWT Maha Kaya dari Semesta Alam.”
قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ (ص) : كَـفَـرَ باللّهِ الْعَظِيْمِ من هذه الامة عشرة : ... وَمَنْ وَجَدَ سَعَةً فَمَاتَ وَلَمْ يَحُجْ
“Telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung, ............ siapa yang punya keluasan rizki, lalu dia meninggal, sementara dia tidak melaksanakan ibadah haji.”

(2). Orang yang mampu melaksanakan ibadah haji, tetapi menunda-nunda tanpa alasan yang benar secara syariat, sampai dia meninggal dan belum melaksanakan ibadah haji, maka di hari kiamat dia dibangkitkan sebagai orang yahudi/nasrani (belum beriman).
مَنَ سَوَّفَ بِالْحَجِّ حَتَّى يَمُوتَ بَعَثَهُ اللهُ يومَ القِيَامَةِ يَهُودِيًا أَوْ نَصْرَانِيًا.
“Siapa yang menunda-nunda ibadah haji (padahal dia mampu), sampai dia meninggal, Allah membangkitkan dia pada hari kiamat dalam keadaan yahudi atau nasrani.”
Niat Ikhlas Ibadah Haji
Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa semua amal yang dikerjakan adalah tergantung niatnya. Jika ibadah seseorang karena Allah, niscaya ibadahnya ikhlas karena Allah. Jika ibadahnya karena tujuan lain selain Allah, niscaya dia pun akan mendapatkannya. Begitupun dalam pelaksanaan ibadah haji harus dibangun niat yang ikhlas untuk mencari ridha Allah. Karena dalam ibadah haji juga bisa terjadi punya niat lain selain Allah. Seperti disebutkan dalam sebuah riwayat yang berasal dari Imam Ja’far Shadiq. 
اْلـحَـجُّ حَـجَّانِ : حَجٌّ لِلّهِ وَحَجٌّ لِلنَّاسِ, فَمَنْ حَجَّ لِلّهِ كَانَ ثَوَابُهُ عَلَى اللّهِ اَلْجَنّةَ, وَمَنْ حَجَّ لِلنَّاسِ كَانَ ثَوَابُهُ عَلَى النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“(Niat) Haji itu ada 2 macam, haji karena Allah dan haji karena manusia, siapa yang berhaji karena Allah niscaya pahalanya di sisi Allah berupa surga, dan siapa yang berhaji karena manusia maka pahalanya dari manusia lain pada hari kiamat nanti."
مَـنْ حَـجَّ يُـرِيْـدُ اللّهَ عـزوجـل لاَيُرِيْدُ بِهِ رِيَاءً وَلاَ سُمْعَةً, غَفَرَ اللّهُ لَهُ اَلْبَتَّةْ
“Siapa yang berhaji karena ingin mendapatkan ridha Allah, dan dia tidak ingin riya (dilihat orang) dan tidak ingin sum’ah (didengar orang), niscaya dia mendapatkan ampunan dari Allah SWT sama sekali. 

Ibadah Haji dengan Harta Halal
Dalam melaksanakan ibadah haji pasti dibutuhkan persiapan-persiapan yang dapat menghantarkan perjalanan ibadah tersebut. Salah satu bagian terperting adalah persiapan materi berupa dana yang diperlukan menjelang keberangkatan sampai kepulangan ke rumah masing-masih pelaku ibadah haji. 
Dan dana yang dibutuhkan tidaklah ringan, karena bagi umat Islam Indonesia untuk menunaikan ibadah haji mesti menyiapkan dana kisaran 40 – 50 jutaan untuk 1 orang. Dana sebesar itu bagi orang kaya mungkin tidak jadi masalah, tetapi bagi orang yang dalam kehidupannya standar dan penghasilannya tidak besar, maka dana sebesar itu termasuk kategori mahal.
Meskipun biaya ibadah haji tergolong mahal, tetapi jika orang yang sudah terpanggil untuk melaksanakan niscaya akan ada jalan untuk mencapainya, entah dengan jalan menabung, menjual sebagian harta benda/tanah, dan cara-cara lain yang halal dan baik. Yang terpenting adalah jangan sampai menunaikan ibadah haji dengan menggunakan dana yang haram, karena ibadah tersebut akan menjadi sia-sia. Seperi disebutkan dalam riwayat-riwayat di bawah ini.
Nabi SAW bersabda :
قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ (ص) : مَـنْ حَـجَّ بِمَالٍ حَرَامٍ فَقَالَ : لَبَّيْكَ اَللّهُمّ لَبّيْكَ, قَالَ اللّهُ لَهُ : لاَ لَبّيْكَ وَلاَ سَعْدَيْكَ, حَجُّكَ مَرْدُوْدٌ عَلَيْكَ
.
“Siapa yang berhaji dengan harta haram, maka ketika dia berdoa “aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, maka Allah berkata kepadanya,”Aku tidak menerima panggilanmu, dan juga tidak senang denganmu, hajimu tertolak.”
Riwayat dari jalur Imam Ja’far Shadiq :
اِذَا اكْتَسَبَ الرَّجُلُ مَالاً مِنْ غَيْرِ حَلِّهِ ثُمَّ حَجَّ فَلَبَّى, نُوْدِيَ : لاَ لَبّيْكَ وَلاَ سَعْدَيْكَ. وَاِنْ كَانَ مِنْ حَلِّهِ فَلَبَّى نُوْدِيَ : لَبّيْكَ وَسَعْدَيْكَ.
“Jika seseorang berusaha mendapatkan harta dengan tidak halal, kemudian dia menunaikan ibadah haji dan di saat bertalbiyah, dia akan dapat jawaban,”tidak ada panggilan untukmu, dan tiada kebahagiaan untukmu.” Tapi jika dia ibadah haji dengan harta yang halal, ketika talbiyah dia mendapat jawaban,”Aku menerima panggilanmu, dan selamat atas kebahagiaanmu.” 
Demikianlah pembahasan mengenai Targhib dan Tarhib Ibadah Haji, semoga dapat menjadikan kita yang belum mendapat kesempatan menunaikan rukun Islam ke-5 agar lebih termotivasi untuk segera menunaikan ibadah haji jika diberikan kemampuan. Sehingga kita dapat menyempurnakan tiang keislaman kita dengan kewajiban ibadah haji ke Baitullah. 

(*). Khutbah Jum’at di sampaikan oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag di Masjid Tarbawy  - Kel. Srengseng, Kec. Kembangan – Jakarta Barat pada Jum’at 09 Nopember 2012 M bertepatan dengan tanggal 24 Dzulhijjah 1432 H.


Selasa, 07 Agustus 2018

Mengenal Tuhan Dalam Islam

Mengenal Tuhan dalam Islam merupakan sebuah pondasi bagi seorang Muslim dalam beragama. Ibarat seseorang yang membangun sebuah bangunan. Jika pondasinya kuat niscaya, bangunan tersebut akan menjadi kuat sampai ke atas. Tapi jika pondasi tersebut lemah, maka bangunan yang ada di atasnya dipastikan suatu saat akan roboh. 
Baca juga : Pengertian Islam menurut bahasa dan istilah
Ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Mengenal Tuhan dalam Islam begitu penting. Karena dengan mengenal Tuhan dengan benar, maka seseorang akan sayang dan dapat memanifestasikan cintanya kepada Tuhan dengan benar pula. Dan Tuhanpun akan sayang dan mencintai dirinya.
Mengenal Tuhan dalam Islam adalah suatu bahasan yang utama dan pokok (ushuul al-diin) bagi seseorang yang belajar mengkaji Islam. Oleh karena itu, kajian tentang mengenal Tuhan harus didahulukan daripada kajian-kajian lainnya yang bersifat cabang (furuu’ al-diin).
Karena begitu sangat pentingnya mengenal Tuhan dalam Islam, sehingga orang yang tidak mengenal Tuhannya dalam Islam ketika beribadah, maka ibadahnya tergolong ibadah yang tertolak alias tidak sah. Secara logika saja masuk akal, bagaimana mungkin dia menyembah Tuhan, wong Tuhannya saja belum dia kenal.
Al-Imam al-Ghazali berkata:
لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
mengenal tuhan dalam islam
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengenal (Allah) yang wajib disembah”.

Bagaimana Cara Mengenal Tuhan Dalam Islam
Cara mengenal Tuhan dalam Islam, tentu kita harus batasi. Dalam arti bahwa mengenal Tuhan bukan dalam skala diri-Nya, bukan mengkaji dan mengenal dzat-Nya. Upaya tersebut tidak mungkin dilakukan oleh manusia. Karena hal demikian, tidak mungkin dapat dilakukan, karena manusia terbatas sementara Tuhan Maha tidak terbatas. Jadi pemikiran manusia tidak akan sampai menjamah dzat Tuhan. Sehingga kalau dilakukan, hal ini dapat menjerumuskan manusia kepada kekufuran.
Oleh karena itu, cara mengenal Tuhan dalam Islam, yang dimaksud adalah mengkaji tentang manifestasi-manifestasi Tuhan di alam jagat raya ini. Atau bahasa lainnya mengkaji dan memikirkan tentang ciptaan Tuhan. Manakala seseorang mampu memahami hakikat adanya ciptaan Tuhan, dan manifestasi Tuhan yang mewujud di alam raya ini, niscaya dia mengenal Tuhan-Nya.

فَقَالَ النّبِيُّ ص : تَفَكَّرُوْا فِيْ خَلْقِ اللهِ وَلَا تَتَفَكَّرُوْا فِي اللهِ، فَإِنَّكُمْ لَنْ تَقْدُرُوْا قَدْرَهُ - الحديث
Nabi SAW bersabda,“Fikirkanlah tentang ciptaan Allah, jangan kau pikirkan tentang dzat Allah, karena sesungguhnya (jika memikirkan dzat Allah), kamu tidak akan mampu menakarnya.”
Atau dalam bahasa lainnya, manusia dapat mengenal Tuhan, dengan membenarkan keberadaan Tuhan, kemudian meyakini dia Tunggal (Esa), lalu ikhlas dan meniadakan sifat-sifat Tuhan. Karena antara dzat dan sifat itu berbeda. Ketika seseorang menyifati Tuhan, maka dia telah membuat Tuhan menjadi berbilang, tidak Esa lagi.  Sebagaimana disebutkan oleh Sayyidina Ali KW :
"أَوَّلُ الدِّيْنِ مَعْرِفَتُهُ وَكَمَالُ مَعْرِفَتِهِ التَّصْدِيْقُ بِهِ وَكَمَالُ التَّصْدِيْقُ بِهِ تَوْحِيْدُهُ وَكَمَالُ تَوْحِيْدِهِ اَلْإِخْلَاصُ لَهُ وَنَفْيُ الصِّفَاتِ عَنْهُ"
“Permulaan beragama itu adalah mengenal-Nya (ma’rifat Tuhan), dan sempurnanya ma’rifat Tuhan adalah dengan membenarkannya, dan sempurnanya pembenaran adalah meng-Esa-kan-Nya (tauhid), dan sempurnanya Tauhid adalah ikhlas kepada-Nya dan meniadakan sifat-sifat dari-Nya.” 
Tetapi sebenarnya, karena manusia di muka bumi ini memiliki banyak latar belakang yang beragam, ada yang materialis, ada yang non muslim, ada yang anti agama, bahkan ada yang atheis (anti Tuhan).
Sehingga secara universal, sebenarnya Cara mengenal Tuhan dalam Islam dapat digolongkan menjadi 3 cara, yaitu :
(1). Cara Rasional (Burhan Imkan dan Wujub)
Mengenal Tuhan dalam Islam dengan cara rasional dapat dikatakan sebagai pengenalan Tuhan dengan menggunakan akal (dalil aqli). Di sinilah sebagai orang beragama harus menggunakan akal sehatnya, bahkan untuk mengenal Tuhannya.
قَالَ النَّبِيُّ (صلى الله عليه وآله): قِوَامُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ، وَلَا دِيْنَ لِمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ.
Nabi SAW bersabda,”kelurusan seseorang terletak pada akalnya, dan tidak disbut beragama orang yang tidak menggunakan akalnya.”
قَالَ رَسُولُ اللهِ ( صلى الله عليه و آله ) : " إِنَّمَا يُدْرَكُ الْخَيْرُ كُلُّهُ بِالْعَقْلِ ، وَ لَا دِينَ لِمَنْ لَا عَقْلَ لَهُ
Rasulullah SAW bersabda,“Sesungguhnya diperolehnya semua kebaikan adalah dengan akal,  dan tidak disebut beragama, orang yang tidak menggunakan akalnya.”
Hal ini dapat dilakukan dengan membuktikan adanya ciptaan dan pencipta. Adanya benda yang dibuat dan sang pembuat benda. Contoh sederhananya, kita melihat dalam kehidupan sehari-hari. Jika di rumah, kita temukan ada meja dan kursi. Akal kita berfikir, tidak mungkin meja dan kursi ada dengan sendirinya. Pasti ada yang membuatnya. Dan yang membuatnya adalah orang yang punya kemampuan membuat meja dan kursi, seperti para tukang kayu. Tukang kayu membuat meja dan kursi, kemudian mereka menjualnya ke toko mebel, dan kita membelinya untuk dipakai di rumah. Sehingga kita mengenal bahwa pasti ada yang membuat meja dan kursi.
Dalam konteks mengenal Tuhan secara akal dapat kita contohkan dalam kehidupan kita. Kita melihat bumi terhampar luas, maka secara logika tidak mungkin bumi ada begitu saja dengan sendirinya. Pasti ada yang menciptakan. Kita melihat langit, maka secara akal sehat kita dapat katakan bahwa pasti ada yang menciptakan langit. Yang menciptakan langit dan bumi, pasti yang lebih besar dari keduanya. Yang Maha dalam segala-galanya. Dalam Islam, penciptanya adalah Tuhan, bukan yang lain.  Orang Islam mengenal Tuhannya dengan sebutan Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam Surat Ali 'Imran Ayat 190 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
2.    Cara empirik (Argumen Keteraturan)
Cara empirik berkaitan dengan mengenal Tuhan dalam Islam, dapat dilakukan melalui pembuktian secara penemuan-penemuan, dan pengamatan yang dilakukan oleh indra manusia. Pembuktian cara empirik ini mengedepankan argumen-argumen keteraturan. Bahwa segala sesuatu yang ada di jagat alam raya ini, baik langit, bumi, matahari, bulan, bintang, planet-planet, gunung-gunung, lautan, sungai, dan sebagainya merupakan bukti adanya ciptaan yang sangat beraturan tanpa ada tabrakan dan kekacauan. 
Hal ini membuktikan bahwa pasti ada suatu dzat yang mengaturnya. Dan pasti yang mengaturnya adalah dzat yang maha dalam segalanya. Dan yang mengatur jagat alam raya ini pasti satu wujud yang Esa, tidak mungkin berbilang. Sebab, secara logika, jika yang mengatur jagat alam raya ini, berjumlah lebih dari satu, maka niscaya alam menjadi hancur berantakan, karena terjadi rebutan pengaturan. Nah, di dalam Islam diyakini bahwa dzat yang mengatur segalanya itulah disebut Tuhan. Dan salah satu nama Tuhan dalam Islam disebut sebagai Allah.
Al-Quran Surat Al-Anbiya Ayat 22 menjelaskan :
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”
3.     Cara hati (Argumen Fitrah)
Mengenal Tuhan dalam Islam dengan cara hati, dapat dilakukan seseorang dengan menempuh jalan spiritual secara irfan, yang diawali dengan irfan teori kemudian dilanjutkan dengan irfan praktisi. Jalur hati dalam mengenal Tuhan dapat dipahami melalui argumentasi secara fitrah (baca:kesucian). Bahwa untuk mengenal Tuhan yang suci, manusia juga juga meniscayakan dirinya dalam kesucian. 
Karena manusia mempunyai potensi untuk selalu melakukan perbuatan buruk, dosa dan maksiat, maka dia harus melakukan latihan-latihan (riyadhah), agar dirinya kembali kepada fitrah. Manusia harus mengosongkan jiwanya dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Manusia harus menampakkan perbuatan-perbuatan baik di hadapan Tuhan. Manusia harus mampu memadamkan api neraka di dalam jiwanya. Dalam bahasa lain, manusia harus melakukan penyucian diri (tazkiyah al-nafs), untuk mengenal dan mendekat ke sisi Tuhannya.  Dengan upaya-upaya tersebut, niscaya dirinya akan mendekat ke sisi Tuhannya. Dirinya akan mendapatkan anugerah penyaksian (musyahadah) dan terbukanya hijab-hijab (mukasyafah).
Disebutkan di dalam Surat Ar-Rum Ayat 30 :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Sehingga, dengan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengenal Tuhan, dan manusia telah benar-benar mengenal Tuhannya, maka secara otomatis dia mengenal dirinya sendiri. Dirinya berasal dari mana, untuk apa diciptakan, dan mau kemana kembali. Itulah hakikat penciptaan manusia. Dari Tuhan, oleh Tuhan, dan kembali kepada Tuhan.
Disebutkan dalam dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal :
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Siapa yang telah mengenal dirinya, maka sungguh dia telah mengenal Tuhannya.”
 Baca juga : Korelasi iman, amal shaleh dan akhlak baik

Demikianlah, pembahasan tentang mengenal Tuhan dalam Islam. Semoga kita semua berupaya mengenal Tuhan dengan baik dan benar. Sehingga, kita dapat kembali kepada Tuhan dengan kesempurnaan manusia yang sesungguhnya.