Hari ini Jumat tanggal 17 Agustus 2018 M bertepatan dengan tanggal 5 Dzulhijjah 1439 H. Jika kita melihat sejarah, maka kita dapat melihat ada beberapa peristiwa besar khususnya ummat Islam Indonesia.
Pertama, peristiwa kemerdekaan. Alhamdulillah, atas berkat rahmat Allah SWT yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur, di bulan Agustus 73 tahun yang lalu, tepatnya pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 (hari dan tanggalnya sama dengan hari ini), bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Bangsa Indonesia meyakini bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Sehingga, setelah melalui pengorbanan yang berat dan perjuangan yang panjang, akhirnya kemerdekaan dapat diraih oleh bangsa Indonesia.
Kedua, peristiwa ibadah haji dan kurban. Sebagai ummat Islam, kita sekarang berada di bulan Dzulhijjah, termasuk salah satu bulan dari 4 bulan asyhurul hurum, bulan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Dimana di bulan ini juga terdapat peristiwa besar dan monumental bersejarah, yaitu ibadah haji dan kurban yang dirintis oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS. Kini ummat Islam seluruh dunia tengah menunaikan rukun Islam ke-5, yaitu menunaikan ibadah haji di baitullah al-haram. Dan nanti tanggal 10 Dzulhijjah, kita akan merayakan idul adha, dengan melakukan pengorbanan penyembelihan hewan kurban bagi yang mampu.
Baca juga : Predikat Haji Mabrur Menurut Islam
Kalau kita korelasikan antara peristiwa kemerdekaan Indonesia dengan ibadah haji dan kurban, maka kita dapat menyimpulkan ada beberapa kesamaan sebagai berikut :
Bahwa untuk mencapai kemerdekaan, bangsa Indonesia mendapatkannya tidak dengan cara yang mudah, tapi harus melalui perjuangan yang panjang, diawali dengan melawan para penjajah saat itu. Dimana mereka para pejuang banyak mengorbankan harta, waktu, jiwa dan raganya. Dan dengan ikhtiar serta perjuangan itulah, akhirnya rahmat Allah SWT diturunkan kepada bangsa Indonesia dengan anugerah kemerdekaan.
Dalam peristiwa ibadah haji dan kurban, jauh sebelum kedua ibadah tersebut disyariatkan untuk ummat Islam. Dulu kita melihat peristiwa yang monumental dan bersejarah. Nabi Ibrahim AS yang dengan ikhlas dan yakin akan perintah Allah melalui mimpi, agar ia menyembelih dan mengorbankan Ismail, putra yang sangat dicintainya. Tetapi tentunya itu bukan hakikat dari perintah Allah SWT. Itu hanyalah ujian buat Nabi Ibrahim AS. Apakah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya. Dan Ismail yang saleh serta ikhlas, meyakini dan menerima perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim dan Ismail, mampu melawan godaan setan, yang ingin menggagalkan rencana penyembelihan. Dan akhirnya Allah SWT menggantinya dengan yang lebih baik, berupa domba sebagai pengganti pengorbanannya. Sehingga, Nabi Ibrahim melewati semua ujian yang datang dari Allah SWT.
Dalam peristiwa ibadah haji dan kurban, jauh sebelum kedua ibadah tersebut disyariatkan untuk ummat Islam. Dulu kita melihat peristiwa yang monumental dan bersejarah. Nabi Ibrahim AS yang dengan ikhlas dan yakin akan perintah Allah melalui mimpi, agar ia menyembelih dan mengorbankan Ismail, putra yang sangat dicintainya. Tetapi tentunya itu bukan hakikat dari perintah Allah SWT. Itu hanyalah ujian buat Nabi Ibrahim AS. Apakah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya. Dan Ismail yang saleh serta ikhlas, meyakini dan menerima perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim dan Ismail, mampu melawan godaan setan, yang ingin menggagalkan rencana penyembelihan. Dan akhirnya Allah SWT menggantinya dengan yang lebih baik, berupa domba sebagai pengganti pengorbanannya. Sehingga, Nabi Ibrahim melewati semua ujian yang datang dari Allah SWT.
Dari Sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut, sesungguhnya mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai pengorbanan, baik pengorban harta maupun segala sesuatu yang dicintainya.
Pun dalam konteks sekarang, peristiwa ibadah haji di bulan dzulhijjah ini, dimana pelaku Ibadah haji harus siap mengorbankan harta benda, waktu dan tenaganya. Dalam ibadah kurban yang akan dilakukan pada idul adha nanti juga sama, bahwa Ummat Islam harus mengorbankan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(2). Kesamaan Prinsip Kemerdekaan
Dalam QS. al-Baqarah ayat 126, Allah Swt. berfirman:
Pun dalam konteks sekarang, peristiwa ibadah haji di bulan dzulhijjah ini, dimana pelaku Ibadah haji harus siap mengorbankan harta benda, waktu dan tenaganya. Dalam ibadah kurban yang akan dilakukan pada idul adha nanti juga sama, bahwa Ummat Islam harus mengorbankan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(2). Kesamaan Prinsip Kemerdekaan
Dalam QS. al-Baqarah ayat 126, Allah Swt. berfirman:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”
Dalam ayat yang lain yang serupa dengan ayat di atas ada di QS. Ibrahim ayat 35:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.”
Kalau kita cermati dari kedua ayat itu saja, kita dapat mengambil pelajaran bahwa, melalui doa-doanya Nabi Ibrahim sesungguhnya merupakan bapak pelopor kemerdekaan bagi ummat manusia. Dalam doanya Nabi Ibrahim, ingin agar negerinya menjadi aman sentosa tidak ada gangguan dan ancaman, baik dari dalam maupun dari luar. Inilah prinsip nasionalisme Nabi Ibrahim yang dapat direalisasikan dalam bentuk cinta tanah air. Karena cinta tanah air bagian dari iman (hub al-wathan min al-iimaan). Sehingga dari nasionalisme inilah dapat melahirkan kemerdekaan dari suatu bangsa.
Nabi Ibrahim AS menginginkan agar ummatnya merdeka dalam beberapa hal : (1). Merdeka dari kekacauan negara sehingga negara menjadi merdeka dalam segala hal dan menjadi aman sentosa (2). Merdeka dari kemiskinan, sehingga penduduknya mendapat banyak rezeki berlimpah, menjadi cukup dan sejahtera secara ekonomi. (3). Merdeka dari kekufuran dan berhala sembahan selain Allah SWT.
Kita sebagai bangsa Indonesia, mendapatkan anugerah kemerdekaan karena adanya rahmat Allah SWT dan melalui perjuangan yang sangat panjang. Semoga kita pun dapat meneladani Nabi Ibrahim AS. Agar kita memperoleh kemerdekaan dalam banyak hal. Merdeka dari kekacauan negara sehingga negara kita menjadi merdeka dalam segala hal, bukan hanya merdeka hanya sebatas formal. Masyarakat kita harus merdeka dari kemiskinan, baik kemiskinan ekonomi maupun kemiskinan ilmu, sehingga penduduknya menjadi cukup dan sejahtera secara ekonomi dan memiliki kecakapan dalam ilmu pengetahuan. Dan masyarakat kita harus merdeka dari segala macam bentuk kekufuran dan segala macam bentuk berhala dan sembahan selain Allah SWT.
Selain ketiga kemerdekaan yang dicita-citakan tersebut, ada 2 kemerdekaan lagi yang terpenting khususnya bagi kita ummat Islam.
Nabi Ibrahim AS menginginkan agar ummatnya merdeka dalam beberapa hal : (1). Merdeka dari kekacauan negara sehingga negara menjadi merdeka dalam segala hal dan menjadi aman sentosa (2). Merdeka dari kemiskinan, sehingga penduduknya mendapat banyak rezeki berlimpah, menjadi cukup dan sejahtera secara ekonomi. (3). Merdeka dari kekufuran dan berhala sembahan selain Allah SWT.
Kita sebagai bangsa Indonesia, mendapatkan anugerah kemerdekaan karena adanya rahmat Allah SWT dan melalui perjuangan yang sangat panjang. Semoga kita pun dapat meneladani Nabi Ibrahim AS. Agar kita memperoleh kemerdekaan dalam banyak hal. Merdeka dari kekacauan negara sehingga negara kita menjadi merdeka dalam segala hal, bukan hanya merdeka hanya sebatas formal. Masyarakat kita harus merdeka dari kemiskinan, baik kemiskinan ekonomi maupun kemiskinan ilmu, sehingga penduduknya menjadi cukup dan sejahtera secara ekonomi dan memiliki kecakapan dalam ilmu pengetahuan. Dan masyarakat kita harus merdeka dari segala macam bentuk kekufuran dan segala macam bentuk berhala dan sembahan selain Allah SWT.
Selain ketiga kemerdekaan yang dicita-citakan tersebut, ada 2 kemerdekaan lagi yang terpenting khususnya bagi kita ummat Islam.
(1). Merdeka dari godaan hawa
nafsu dan godaan setan.
Dulu para pejuang kemerdekaan, mereka
berjihad di jalan Allah untuk melawan penjajahan dan itu termasuk jihad kecil. Ada lagi musuh yang paling besar dalam
kehidupan kita yaitu hawa nafsu. Setelah ummat Islam mampu melawan musuh para
penjajah, dan itu disebut perang kecil (al-jihaad al-ashghar), maka kita
menuju perang besar (al-jihaad al-akbar). Siapa musuh dalam perang besar
? musuhnya adalah diri sendiri ? musuhnya adalah hawa nafsu kita. Manakala kita
mampu berperang melawan musuh hawa nafsu, berarti kita telah menyelesaikan
jihad besar. Dan itu terjadi secara terus menerus, sepanjang hidup kita.
Dalam sebuah hadis disebutkan :
قَالَ
رَسُولُ اللهِ ص م : مَرْحَبًا بِقَوْمٍ قَضَوْا الْجِهَادَ الأَصْغَرَ، وَبَقِيَ
عَلَيْهِمْ الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا
الْجِهَادُ الْأَكْبَرُ؟ قَالَ: جِهَادُ النّفْسِ.
Rasul SAW, berkata :”selamat datang para kaum yang telah
menyelesaikan kewajiban jihad kecil, tapi bagi mereka menyisakan kewajiban
jihad besar. Mereka bertanya Ya Rasulullah, apakah jihad besar itu ? Rasul SAW
menjawab :”jihad mengendalikan diri, melawan hawa nafsu.”
Disamping kita melawan musuh hawa
nafsu yang ada pada diri, kita pun harus mampu mengalahkan musuh manusia yang
nyata, yaitu setan laknatullah.
( (وَلَا تَتَّبِعُوا
خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Baca juga : Jihad Besar Melawan Hawa Nafsu
Baca juga : Jihad Besar Melawan Hawa Nafsu
(2). Merdeka dalam pengabdian kepada
Allah
Setelah kita mampu merdeka dari
musuh hawa nafsu dan musuh godaan setan. Selanjutnya hendaknya pula kita
merdeka dalam pengabdian kepada Allah SWT. Bagaimana yang disebut merdeka dalam
pengabdian kepada Allah. Yaitu dalam pengabdian hendaklah kita jangan cuma
ingin mendapatkan surga, atau kita ibadah karena takut akan siksa neraka. Tetapi lebih dari itu, kita
beribadah kepada Allah, karena kita cinta kepada-Nya, karena kita bersyukur
kepada Allah SWT.
Sayyidina Ali
KW berkata :
إِنَّ
قَوْماً عَبَدُوا اللهَ رَغْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ التُّجَّارِ، وَإِنَّ قَوْماً
عَبَدُوا اللهَ رَهْبَةً فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْعَبِيدِ، وَإِنَّ قَوْماً عَبَدُوا
اللهَ شُكْراً
فَتِلْكَ عِبَادَةُ الْأَحْرَارِ.
“Sesungguhnya,
segolongan kaum menyembah Allah karena ingin (surga), maka itu ibadahnya para
pedagang, dan ada segolongan kaum yang menyembah Allah karena takut (siksa), itulah
ibadahnya para budak/hamba sahaya, dan ada segolongan kaum yang menyembah Allah
karena rasa syukur, itulah ibadahnya orang-orang merdeka.”
Realisasi dari ibadah yang merdeka adalah ketika kita melaksanakan shalat, maka shalat yang kita lakukan karena kita cinta dan bersyukur kepada Allah SWT, bukan karena ingin surga dan takut neraka. Manakala kita menunaikan ibadah puasa, maka puasa kita bukan karena ingin surga dan takut neraka, tapi karena kita cinta kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya.
Kita menunaikan ibadah haji, bukan karena ingin surga dan takut neraka, apalagi jika ingin dipuji dan ingin dipanggil haji, tetapi ibadah haji yang kita lakukan karena kita cinta kepada Allah dan bersyukur kepada-Nya. Kita menyembelih hewan kurban, bukan karena ingin dapat surga dan takut siksaan, apalagi kalau namanya ingin disebut-sebut dan diumumkan, tetapi karena kita ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, cinta kepada Allah SWT dan bersyukur kepada-Nya, sebagai hamba yang beriman. Inilah ciri-ciri ibadahnya orang merdeka. Yaitu ibadah yang dilakukan karena manifestasi syukur kepada Tuhan.
Baca juga : Korelasi Iman, Amal Saleh dan Akhlak
Demikianlah khutbah yang dapat
saya sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga melalui momentum kemerdekaan
Indonesia yang ke 73, serta peristiwa ibadah haji dan kurban, kita dapat
merasakan kemerdekan dalam banyak hal dan keadaan. Merdeka dari penjajahan
global sehingga negara kita tetap aman. Merdeka dari kemiskinan, baik secara ekonomi maupun keilmuan.
Merdeka dari kekufuran dan berhala sebagai sembahan. Merdeka dari godaan hawa
nafsu dan godaan setan. Dan merdeka dalam hal pengabdian kepada Tuhan.
==========
(*) Khutbah Jumat, disampaikan oleh Mubarok Abie Fadhli, S.Ag di Masjid At-Tawwaab, Larangan Indah – Larangan – Kota Tangerang, tanggal 17 Agustus 2018 M / 5 Dzulhijjah 1439 H.

EmoticonEmoticon